Wakil Komandan Tinggi Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) untuk urusan politik, Mayor Jenderal Yadollah Javani, menyampaikan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait eskalasi terbaru dengan Iran. Ia menilai AS akan menanggung dampak yang jauh lebih berat jika terus melanjutkan serangan, bahkan sekalipun Washington mengerahkan seluruh kekuatan militernya.
Javani menegaskan bahwa kekuatan militer AS tidak otomatis memberi keunggulan dalam konflik ini. Ia menyebut upaya tekanan terhadap Iran justru bisa berbalik merugikan pihak AS, karena pada akhirnya Washington tetap akan kalah jika perang diperluas.
Peringatan soal Selat Hormuz
Dalam pernyataannya, Javani juga menyoroti posisi strategis Selat Hormuz yang menurut dia berada di bawah kendali Iran. Ia mengatakan setiap kapal yang ingin melintas dengan aman harus mendapat izin dari angkatan bersenjata Iran.
Ia menambahkan bahwa kapal yang dianggap terkait dengan pihak musuh akan ditindak tegas jika mencoba melewati jalur tersebut. Pernyataan itu menegaskan bahwa Teheran memandang selat itu sebagai instrumen penting dalam menghadapi tekanan eksternal.
Target AS dan Israel dinilai tak tercapai
Javani juga menolak klaim bahwa AS dan Israel bisa mencapai tujuan strategis mereka lewat serangan terhadap Iran. Ia menyebut target yang pernah disampaikan Donald Trump, mulai dari menghancurkan fasilitas nuklir Iran, melemahkan kemampuan misil, menggulingkan pemerintahan, hingga memecah belah negara dan menguasai kawasan Asia Barat, tidak akan terealisasi.
Menurut dia, tantangan terbesar Trump saat ini justru adalah membuka kembali Selat Hormuz. Javani menyebut berbagai upaya telah dilakukan selama 40 hari konflik, namun belum menghasilkan capaian berarti.
Latar konflik yang masih memanas
Konflik AS-Iran dalam artikel referensi disebut bermula dari serangan gabungan AS dan Israel ke Teheran pada 28 Februari. Serangan itu dilaporkan menewaskan Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah komandan militer Iran.
Sebagai balasan, angkatan bersenjata Iran melancarkan 100 gelombang serangan selama 40 hari terhadap aset militer AS dan Israel. Serangan balasan itu disebut menimbulkan kerusakan signifikan dan memperdalam ketegangan yang sudah tinggi.
Perundingan yang belum membuahkan hasil
Gencatan senjata dua pekan kemudian tercapai pada 8 April melalui mediasi Pakistan. Langkah itu sempat membuka jalan bagi perundingan di Islamabad, dengan Iran mengajukan rencana 10 poin yang mencakup penarikan pasukan AS dan pencabutan sanksi.
Namun, setelah 21 jam pembicaraan intens pada 11–12 April, delegasi Iran pulang ke Teheran tanpa kesepakatan. Iran menyatakan masih ada ketidakpercayaan terhadap komitmen AS, dan menegaskan kelanjutan negosiasi bergantung pada pencabutan blokade laut oleh Washington yang dianggap melanggar kesepakatan.
Source: www.viva.co.id