Pejabat Amerika Serikat berusaha menjaga gencatan senjata yang rapuh dengan Iran sambil mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz. Di saat yang sama, Uni Emirat Arab mengatakan wilayahnya kembali diserang dalam gelombang baru rudal dan drone yang dikaitkan dengan Iran.
Washington menampilkan langkah itu sebagai operasi defensif. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan pengawalan tanker yang terjebak di selat dilakukan untuk melindungi pelayaran, bukan memicu pertempuran baru.
Rubio juga menyebut tujuan militer AS telah tercapai. Ia berkata, “Operation Epic Fury is concluded,” seraya menegaskan Washington tidak menginginkan insiden tambahan.
Selat Hormuz Jadi Titik Tekan Baru
Selat Hormuz nyaris tertutup sejak perang dimulai pada 28 Februari dan memicu gangguan yang mengangkat harga komoditas di seluruh dunia. Iran sebelumnya secara efektif menutup jalur itu dengan ancaman ranjau, drone, rudal, dan kapal serang cepat.
Amerika Serikat lalu membalas dengan memblokade pelabuhan Iran dan mengawal kapal-kapal komersial. Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan jalur pelayaran telah diamankan dan ratusan kapal dagang tengah mengantre untuk lewat.
Hegseth juga menegaskan gencatan senjata empat pekan dengan Iran belum berakhir. Ia mengatakan Washington akan memantau situasi “sangat, sangat dekat”.
Di tengah pernyataan itu, lembaga Maritime Trade Operations milik Inggris melaporkan sebuah kapal kargo terkena proyektil di selat. Rincian kejadian tersebut belum langsung tersedia.
UAE Menyebut Serangan Baru
Tak lama setelah pernyataan Hegseth, Kementerian Pertahanan UEA mengatakan pertahanan udaranya kembali menghadapi serangan rudal dan drone dari Iran. Komando militer gabungan Iran membantah telah melakukan serangan itu.
Kementerian luar negeri UEA menyebut serangan tersebut sebagai eskalasi serius dan ancaman langsung bagi keamanan negara. Abu Dhabi juga menyatakan hak penuh dan sah untuk membalas.
Kementerian luar negeri Iran menolak pernyataan UEA. Tehran mengatakan tindakan angkatan bersenjatanya semata-mata untuk menangkis agresi Amerika.
Iran juga mengeluarkan peta baru tentang selat sempit itu dengan perluasan area kendali Iran. Garda Revolusi memperingatkan kapal-kapal agar tetap berada di koridor yang ditetapkan atau menghadapi “respons tegas”.
Perang Masih Menekan Jalur Dagang
Militer AS mengatakan dua kapal dagang Amerika berhasil melewati selat itu, meski tidak menyebut waktunya. Perusahaan pelayaran Maersk juga mengatakan kapal berbendera AS, Alliance Fairfax, keluar dari Teluk di bawah pengawalan militer Amerika pada hari Senin.
Iran membantah ada penyeberangan kapal seperti itu. Perbedaan klaim ini menunjukkan betapa rapuhnya situasi di jalur laut yang mengangkut seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Ketegangan di lapangan terjadi saat perang terus meluas ke Lebanon dan Teluk, dengan korban jiwa mencapai ribuan orang. Kepala Dana Moneter Internasional mengatakan dampaknya tetap akan terasa tiga hingga empat bulan bahkan jika konflik berhenti segera.
Rubio menyebut 10 pelaut sipil termasuk di antara korban tewas. Ia juga mengatakan awak kapal yang terjebak di selat itu “kelaparan” dan “terisolasi”.
Diplomasi Masih Buntu
Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik belum menghasilkan terobosan. Pejabat Amerika dan Iran baru satu kali menggelar pembicaraan langsung, sementara upaya menjadwalkan pertemuan lanjutan gagal.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan pembicaraan damai masih berjalan melalui mediasi Pakistan. Kementerian luar negerinya menyebut Araqchi sedang menuju Beijing untuk bertemu mitranya dari China.
Di Washington, Presiden Donald Trump mengatakan militer Iran telah dipangkas menjadi sekadar menembakkan “peashooters” dan Tehran menginginkan perdamaian meski tetap bersikap keras di depan publik. Ia juga mengatakan Iran tahu apa yang tidak boleh dilakukan untuk melanggar gencatan senjata.
