Gencatan Senjata Rapuh di Teluk, AS dan Iran Masih Jauh Dari Akhir Perang

Amerika Serikat dan Iran belum juga menemukan jalan keluar dari perang yang terus memanas di Teluk, meski gencatan senjata yang rapuh masih bertahan. Bentrokan terbaru di sekitar Selat Hormuz menunjukkan konflik ini masih jauh dari selesai dan tetap berisiko melebar ke negara-negara tetangga.

Dalam beberapa hari terakhir, kawasan itu mencatat eskalasi terbesar sejak gencatan senjata dimulai sebulan lalu. Uni Emirat Arab juga kembali menjadi sasaran serangan pada Jumat, menandakan bahwa pertempuran tidak lagi terbatas di jalur laut strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.

Selat Hormuz kembali jadi titik paling rawan

Pertempuran sporadis tetap terjadi pada Jumat antara pasukan Iran dan kapal-kapal Amerika Serikat di Selat Hormuz, menurut kantor berita semi-resmi Fars. Tasnim kemudian mengutip sumber militer Iran yang mengatakan situasi telah mereda, tetapi kemungkinan bentrokan lanjutan masih terbuka.

Militer AS mengatakan pihaknya menyerang dua kapal yang terkait Iran saat keduanya mencoba memasuki pelabuhan Iran. Seorang jet tempur AS menghantam cerobong asap kapal itu dan memaksa mereka berbalik arah.

Tehran telah membatasi secara luas pelayaran non-Iran di selat itu sejak perang dimulai dengan serangan udara AS-Israel di Iran pada 28 Februari. Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur sempit tersebut.

Tekanan militer belum mengubah kalkulasi Tehran

Washington masih menunggu respons Iran atas usulan AS yang akan secara resmi mengakhiri perang sebelum pembicaraan masuk ke isu yang lebih rumit, termasuk program nuklir Iran. Di Roma pada Jumat, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan AS memperkirakan jawaban datang hari itu, tetapi juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut Tehran masih mempertimbangkannya.

Sebuah analisis intelijen AS juga menyebut Iran dapat bertahan menghadapi blokade laut selama berbulan-bulan. Menurut seorang pejabat AS yang mengetahui hal itu, penilaian CIA menunjukkan Iran tidak akan menanggung tekanan ekonomi berat dari blokade pelabuhan Iran oleh AS selama sekitar empat bulan lagi.

Seorang pejabat intelijen senior menyebut klaim soal analisis CIA itu palsu. Informasi tersebut pertama kali dilaporkan Washington Post.

Serangan meluas ke Teluk dan UEA

Bentrok juga meluas di luar perairan Selat Hormuz. Uni Emirat Arab mengatakan sistem pertahanan udaranya menghadapi dua rudal balistik dan tiga drone dari Iran pada Jumat, dengan tiga orang mengalami luka sedang.

Iran berkali-kali menargetkan UEA dan negara-negara Teluk lain yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS. UEA menyebut gelombang serangan pekan ini sebagai eskalasi besar, setelah Iran meningkatkan serangan sebagai respons atas pengumuman Trump tentang “Project Freedom” untuk mengawal kapal-kapal di selat itu, yang kemudian ia hentikan setelah 48 jam.

Trump pada Kamis mengatakan gencatan senjata yang diumumkan pada 7 April masih bertahan meski ada ledakan kekerasan. Iran justru menuduh AS melanggar kesepakatan itu.

Diplomasi berjalan, sanksi ikut diperketat

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Jumat menuduh AS memilih “petualangan militer yang sembrono” setiap kali solusi diplomatik tersedia. Iran juga menyebut satu anggota awak tewas, 10 luka-luka, dan enam hilang setelah serangan Angkatan Laut AS terhadap sebuah kapal dagang Iran pada Kamis malam.

AS sendiri menghadapi sedikit dukungan internasional dalam konflik ini. Setelah bertemu Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Rubio mempertanyakan mengapa Italia dan sekutu lain tidak mendukung upaya Washington untuk membuka kembali selat tersebut.

Di saat yang sama, Washington tetap mendorong diplomasi sambil menaikkan tekanan ekonomi. Departemen Keuangan AS pada Jumat menjatuhkan sanksi terhadap 10 individu dan perusahaan, termasuk sejumlah entitas di China dan Hong Kong, karena membantu upaya militer Iran memperoleh senjata dan bahan baku untuk drone Shahed.

Departemen Keuangan juga menyatakan siap bertindak terhadap perusahaan asing mana pun yang mendukung perdagangan ilegal Iran. Lembaga itu membuka peluang sanksi sekunder terhadap lembaga keuangan asing, termasuk yang terkait dengan kilang minyak independen di China.

Exit mobile version