Komando Pusat Amerika Serikat atau Centcom mengklaim telah memblokir lebih dari 70 kapal tanker yang hendak masuk maupun keluar dari pelabuhan Iran. Langkah itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan dan memperketat tekanan terhadap jalur distribusi minyak Iran.
Dalam pernyataannya di platform X pada Jumat (8/5/2026), Centcom menyebut kapal-kapal komersial yang diblokir itu memiliki kapasitas mengangkut lebih dari 166 juta barel minyak Iran. Nilai kargonya diperkirakan melampaui US$ 13 miliar atau sekitar Rp 225,5 triliun.
Blokade diperluas di Selat Hormuz
Amerika Serikat mulai menjalankan blokade angkatan laut terhadap lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz sejak 13 April 2026. Selat ini menjadi salah satu jalur pelayaran minyak mentah paling strategis di dunia, sehingga pembatasan di area tersebut langsung memengaruhi pergerakan tanker.
Centcom menyatakan operasi itu melibatkan lebih dari 15.000 personel militer, sekitar 200 pesawat, dan 20 kapal perang yang dikerahkan di kawasan. Dengan kekuatan tersebut, AS berupaya menekan aktivitas pengiriman energi yang terkait dengan Iran.
Dampak terhadap ekspor minyak Iran
Data terbaru Centcom menunjukkan sebagian besar kapal pengangkut minyak yang berkaitan dengan Iran masih tertahan akibat konflik yang terus berlangsung. Kondisi ini berpotensi menambah tekanan terhadap pendapatan ekspor minyak Teheran.
Pembatasan maritim itu juga memunculkan kekhawatiran pasar energi global terkait gangguan pasokan. Saat jalur distribusi terganggu, risiko terhadap stabilitas harga energi ikut meningkat.
Lalu lintas kapal ikut terdampak
Ketegangan di Teluk membuat aktivitas pelayaran internasional menghadapi risiko lebih besar. Pembatasan yang terus berlangsung disebut memengaruhi pergerakan kapal tanker di wilayah yang menjadi salah satu pusat lalu lintas energi dunia.
Berdasarkan data pelacakan kapal yang dihimpun Anadolu, tidak ada kapal komersial besar yang melintasi Selat Hormuz selama 24 jam hingga Jumat pukul 09.00 GMT atau sekitar pukul 16.00 WIB. Situasi ini memperlihatkan betapa sensitifnya kawasan tersebut terhadap konflik yang sedang berlangsung.
Kondisi di Selat Hormuz kini menjadi perhatian utama pelaku pasar energi karena setiap pembatasan maritim dapat berdampak langsung pada arus pasokan minyak dunia. Dengan lebih dari 70 tanker disebut tertahan, tekanan terhadap Iran dan kekhawatiran atas stabilitas perdagangan energi global sama-sama meningkat.
Source: www.beritasatu.com






