Ketegangan di Timur Tengah memasuki fase yang lebih rumit saat Washington, Teheran, dan sekutu-sekutu mereka saling mengirim pesan keras. Di saat yang sama, jalur diplomasi masih bergerak, tetapi disertai ancaman militer, serangan drone, dan kekhawatiran baru soal keamanan Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump menolak respons Iran atas usulan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang di kawasan itu. Ia menyebut jawaban Teheran “totally unacceptable” melalui Truth Social, tanpa merinci isi respons tersebut.
Diplomasi masih berjalan, tetapi penuh tekanan
Iran mengatakan telah mengirim balasan kepada proposal terbaru Amerika Serikat melalui Pakistan. Kantor berita resmi IRNA melaporkan pengiriman itu pada Minggu, sementara Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan di X bahwa Iran “tidak akan pernah tunduk kepada musuh.”
Pernyataan itu menunjukkan Teheran masih membuka ruang bicara, tetapi menolak anggapan bahwa dialog berarti menyerah. Trump juga disebut akan menekan Presiden China Xi Jinping soal Iran saat berkunjung ke Beijing pekan ini, menurut seorang pejabat senior pemerintahan Amerika.
Pejabat itu mengatakan Trump diperkirakan akan “menerapkan tekanan” dan telah melakukannya dalam percakapan sebelumnya dengan Xi. Langkah itu menambah dimensi baru dalam upaya Washington mencari jalan keluar dari perang di Timur Tengah.
Selat Hormuz jadi fokus keamanan global
Di sisi lain, Inggris dan Prancis akan menjadi tuan rumah pertemuan multinasional para menteri pertahanan pada Selasa. Pertemuan itu akan membahas rencana militer untuk memulihkan arus perdagangan melalui Selat Hormuz, menurut pemerintah Inggris.
Kementerian pertahanan Inggris mengatakan John Healey akan memimpin pertemuan bersama Menteri Pertahanan Prancis Catherine Vautrin. Lebih dari 40 negara akan ikut dalam pertemuan pertama menteri pertahanan untuk misi multinasional tersebut.
Iran merespons keras kehadiran kapal perang Inggris dan Prancis di kawasan itu. Teheran memperingatkan bahwa angkatan bersenjatanya akan melancarkan “respons tegas dan segera” jika kapal perang itu dikirim ke Selat Hormuz.
London dan Paris memang telah mengerahkan kapal ke wilayah tersebut. Pengerahan itu menjadi bagian dari upaya internasional untuk mengamankan jalur strategis tersebut bila tercapai kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Ancaman militer dan serangan drone meningkat
Ketegangan di laut juga diiringi ancaman langsung terhadap aset Amerika. Korps Garda Revolusi Islam Iran memperingatkan akan menargetkan situs-situs Amerika di Timur Tengah dan “kapal musuh” jika tanker Iran diserang.
Ancaman itu muncul sehari setelah serangan Amerika terhadap dua tanker Iran di Teluk Oman, menurut media Iran. Garda Revolusi menyebut setiap serangan terhadap tanker dan kapal dagang Iran akan dibalas dengan serangan berat terhadap salah satu pusat Amerika di kawasan dan kapal-kapal musuh.
Di lapangan, serangan drone juga dilaporkan terjadi pada beberapa target di Teluk pada Minggu. Satu drone menghantam sebuah kapal kargo yang berlayar menuju Qatar dari Abu Dhabi, dan Kementerian Pertahanan Qatar mengatakan muncul api kecil di kapal itu tanpa korban jiwa.
Militer Kuwait juga mengatakan telah menggagalkan serangan drone pada dini hari. Insiden-insiden ini menambah kekhawatiran bahwa jalur maritim dan fasilitas sipil di kawasan ikut terpapar eskalasi yang lebih luas.
Israel menilai perang belum selesai
Dari pihak Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan perang melawan Iran belum bisa dianggap selesai. Dalam wawancara dengan program “60 Minutes” di CBS News, ia mengatakan stok uranium Iran masih harus “diambil” dan situs-situs pengayaan harus dibongkar.
Netanyahu menyebut perang belum berakhir karena masih ada material nuklir yang diperkaya di Iran. Pernyataan itu menandakan Israel masih melihat ancaman nuklir sebagai inti konflik, meski jalur diplomasi dan tekanan internasional terus bergerak bersamaan.
Tokoh oposisi Iran mendapat perawatan medis
Di tengah eskalasi politik dan militer, kabar lain datang dari dalam Iran. Peraih Nobel Perdamaian Narges Mohammadi dibebaskan dengan jaminan setelah kekhawatiran atas kondisi kesehatannya meningkat, dan ia sudah dipindahkan ke Teheran untuk perawatan medis.
Para pendukungnya mengatakan Mohammadi sebelumnya menjalani hukuman selama 10 hari rawat inap di Zanjan, Iran utara. Yayasan yang terkait dengannya menyebut ia mendapat penangguhan hukuman dengan jaminan besar, tanpa menjelaskan lebih jauh kondisi hukumnya.
Rangkaian perkembangan ini memperlihatkan perang di Timur Tengah belum bergerak ke arah reda. Diplomasi, tekanan militer, pengamanan jalur pelayaran, dan ancaman saling balas masih berjalan serempak, dengan Selat Hormuz sebagai salah satu titik paling sensitif dalam beberapa hari ini.







