
Perdana Menteri India Narendra Modi meminta masyarakat menghemat energi, mengurangi perjalanan ke luar negeri, dan menahan pembelian emas di tengah gejolak ekonomi global akibat perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Imbauan itu ia sampaikan di Hyderabad, India selatan, saat pemerintah menghadapi tekanan pada cadangan devisa dan biaya impor yang terus naik.
Modi juga mendorong warga kembali memakai pola kerja dari rumah, seperti yang pernah terjadi saat pandemi Covid-19, serta memanfaatkan rapat daring untuk menekan konsumsi bahan bakar dan biaya perjalanan. Dalam pernyataannya, Modi menekankan bahwa penghematan devisa menjadi kebutuhan mendesak di situasi saat ini.
Imbauan hemat dari pusat ke rumah tangga
Selain meminta masyarakat mengurangi bepergian ke luar negeri selama setahun ke depan, Modi mendorong penggunaan transportasi umum dan carpooling. Ia juga mengajak rumah tangga menekan konsumsi minyak goreng, yang disebut sebagai bagian dari gaya hidup hemat sekaligus lebih sehat.
Di sektor pertanian, Modi meminta petani mengurangi penggunaan pupuk hingga 50% di tengah terganggunya pasokan global. Ia menyebut patriotisme tidak hanya ditunjukkan di medan perang, tetapi juga lewat sikap hemat dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Dampak konflik terhadap energi dunia
Perang AS-Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026 langsung mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak hampir 50%, dari US$ 72,87 per barel menjadi US$ 105,45 per barel, setelah serangan Iran terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk dan pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
India termasuk negara yang paling terpukul karena sekitar 85% kebutuhan energinya masih bergantung pada impor. Sekitar 50% impor minyak mentah India juga melewati Selat Hormuz, jalur yang kini ikut terganggu akibat konflik.
Tekanan pada impor minyak, emas, dan pupuk
India merupakan importir minyak terbesar ketiga di dunia setelah China dan AS. Pada tahun fiskal April 2025 hingga Maret 2026, India mengimpor minyak mentah senilai US$ 123 miliar, sementara total pengeluaran untuk produk minyak dan petroleum mencapai US$ 174,9 miliar atau sekitar 22% dari total impor nasional.
Emas juga menjadi komoditas impor besar bagi India. Sepanjang tahun fiskal 2025-2026, India mengimpor emas senilai US$ 72 miliar dan menjadi pembeli emas terbesar kedua di dunia setelah China.
Di sisi lain, India juga bergantung pada impor pupuk, terutama urea. Negeri itu disebut sebagai importir urea terbesar dunia dengan volume sekitar 10 juta ton per tahun, dan sebagian besar pasokannya datang dari negara-negara Teluk yang terdampak konflik serta gangguan pelayaran.
Cadangan devisa ikut tertekan
Tekanan pada biaya impor membuat cadangan devisa India menyusut. Per 1 Mei 2026, cadangan devisa India tercatat US$ 690,69 miliar, turun dari posisi sebelum perang yang mencapai US$ 728,5 miliar.
Dana Moneter Internasional memproyeksikan defisit transaksi berjalan India akan mencapai US$ 84 miliar pada 2026, sedangkan UBS Securities memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi India menjadi 6,2% dari sebelumnya 6,7%. Dalam situasi itu, pemerintah dinilai lebih realistis menekan pengeluaran yang bisa dikurangi, seperti perjalanan luar negeri dan konsumsi emas, dibanding memangkas impor minyak dan pupuk yang masih dibutuhkan ekonomi India.
Source: www.beritasatu.com








