Iran menegaskan tidak akan membiarkan senjata Amerika Serikat melintasi Selat Hormuz untuk menuju pangkalan-pangkalan AS di kawasan Timur Tengah. Pernyataan itu memperlihatkan meningkatnya tensi di jalur laut strategis yang selama ini menjadi salah satu urat nadi pasokan energi global.
Juru Bicara Militer Iran, Mohammad Akraminia, menyampaikan larangan itu secara langsung. Ia mengatakan, “Mulai sekarang, kami tak akan mengizinkan senjata Amerika melintasi Selat Hormuz dan memasuki pangkalan-pangkalan regional,” seperti dikutip Press TV.
Pengawasan Selat Hormuz diperketat
Akraminia menjelaskan bahwa Iran menempatkan pengendalian kawasan selat secara terkoordinasi. Bagian barat Selat Hormuz disebut berada di bawah komando Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC, sementara bagian timurnya dikendalikan tentara Iran.
Menurut Akraminia, pola pengawasan itu akan memperkuat kedaulatan Iran atas kawasan tersebut. Ia juga menyebut koordinasi itu dapat meningkatkan pengawasan sekaligus menghasilkan pendapatan hingga dua kali lipat dari pendapatan minyak.
Konflik yang memicu pembatasan
Langkah Iran ini tidak muncul di ruang hampa. Referensi menyebut, pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran yang menimbulkan kerusakan serta menewaskan warga sipil.
Iran kemudian membalas dengan serangan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. Saling serang itu memperlebar ketegangan dan membuat jalur logistik di kawasan ikut terdampak.
Gencatan senjata yang tidak menghapus ketegangan
Pada 7 April, AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Setelah itu, kedua pihak melanjutkan pembicaraan di Islamabad, tetapi perundingan tersebut berakhir tanpa hasil.
Di tengah kebuntuan itu, Presiden AS Donald Trump memperpanjang penghentian permusuhan. Langkah itu disebut bertujuan memberi Iran waktu untuk mengajukan “proposal terpadu”.
Dampak ke jalur pelayaran dan energi
Ketegangan yang terus meningkat ikut mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur ini sangat penting karena menjadi rute utama pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Gangguan di selat tersebut juga mendorong kenaikan harga bahan bakar. Kondisi itu membuat setiap pernyataan soal pembatasan akses militer maupun logistik di kawasan ini mendapat perhatian besar dari pasar dan pengamat keamanan regional.
Larangan Iran terhadap pengiriman senjata AS lewat Selat Hormuz menambah tekanan pada situasi yang sudah rapuh di Timur Tengah. Selama konflik belum mereda, jalur strategis itu tetap berpotensi menjadi titik sensitif yang memengaruhi keamanan regional dan arus energi dunia.
Source: www.viva.co.id