Itamar Ben Gvir kini menjadi salah satu figur paling mencolok dalam pemerintahan Israel. Sebagai Menteri Keamanan Nasional, ia dikenal luas bukan hanya karena posisinya, tetapi juga karena sikap dan pernyataan yang terus memicu kecaman di dalam maupun luar negeri.
Namanya kerap muncul dalam sorotan karena aksi-aksi yang dianggap provokatif. Dari kunjungan ke penjara yang menampung warga Palestina hingga ke kompleks Masjid Al-Aqsa yang sensitif di Yerusalem, Ben Gvir berulang kali memperlihatkan gaya politik yang keras dan konfrontatif.
Sosok yang lahir dari politik sayap kanan ekstrem
Ben Gvir memulai jalur politiknya dari arus paling keras di kubu kanan Israel. Pada 2021, ia masuk parlemen atau Knesset sebagai ketua partai Jewish Power, lalu menjadi menteri pada 2022 setelah beraliansi dengan partai Zionisme Religius yang dipimpin Bezalel Smotrich.
Pandangan politiknya tidak lepas dari ide aneksasi Tepi Barat. Ia juga mendukung pemindahan paksa penduduk Arab ke negara tetangga, sikap yang membuatnya terus disorot sebagai tokoh ekstrem dalam kabinet Israel.
Ia tinggal di permukiman radikal di Tepi Barat yang diduduki dan disebut sebagai ayah dari enam anak. Dari wilayah yang menjadi rumah bagi sekitar tiga juta warga Palestina itu, Ben Gvir konsisten mendorong kebijakan yang memperkuat kendali Israel atas wilayah pendudukan.
Kontroversi yang terus berulang
Rekam jejak Ben Gvir penuh dengan tindakan yang memantik kemarahan publik. Ia pernah merayakan pengesahan undang-undang hukuman mati bagi warga Palestina dengan sebotol sampanye, dan pernah pula merayakan ulang tahun dengan kue berhias simbol tiang gantungan.
Dalam berbagai kesempatan, Ben Gvir juga tampil di lokasi-lokasi yang sangat sensitif secara politik dan keagamaan. Di kompleks Al-Aqsa, yang oleh umat Yahudi disebut Temple Mount, ia kerap bersuara keras dan meneriakkan slogan “Hidup rakyat Israel!”.
Kritik terhadap dirinya tidak hanya datang dari lawan politik atau dunia internasional, tetapi juga dari internal Israel. Para pengamat menuduhnya ikut mendorong ketegangan dengan memanfaatkan jabatan untuk menekan kepolisian dan memperbesar konflik di titik-titik rawan.
Video penahanan aktivis yang memicu kecaman
Kemarahan terbaru terhadap Ben Gvir muncul setelah ia mengunggah video pada Rabu, 20/5. Dalam video itu, ia terlihat bersama puluhan aktivis armada bantuan ke Jalur Gaza yang ditahan dalam posisi berlutut, tangan terikat, dan dahi menempel ke tanah.
Rekaman tersebut langsung memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Italia dan Spanyol bahkan mendesak Uni Eropa agar menjatuhkan sanksi terhadap Ben Gvir, sementara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu juga ikut menegur tindakannya.
Meski demikian, Ben Gvir tidak menunjukkan penyesalan. Ia justru menyebut gambar-gambar itu sebagai sumber kebanggaan besar, sikap yang kembali menegaskan karakternya sebagai politisi yang menantang kritik secara terbuka.
Sikap keras setelah perang Gaza pecah
Setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan perang di Gaza pecah, Ben Gvir semakin keras dalam pernyataan dan langkah politiknya. Ia mendorong warga sipil untuk dipersenjatai dan menyerukan emigrasi penduduk Gaza, disertai gagasan membangun kembali permukiman Israel di wilayah kantong tersebut.
Sikapnya juga terlihat dalam pernyataan publik yang bernada sangat keras. Pada November lalu, ia menyatakan dukungan penuh kepada pasukan Israel yang menembak mati dua warga Palestina dari jarak dekat setelah mereka menyerah di Jenin, Tepi Barat.
Di platform X, Ben Gvir menulis, “Teroris harus mati!” Kalimat itu memperkuat citranya sebagai tokoh yang tidak segan menggunakan bahasa ekstrem dalam situasi konflik yang sudah sangat sensitif.
Warisan ideologi yang membentuknya
Gaya politik Ben Gvir tidak muncul begitu saja. Retorika anti-Arabnya disebut terinspirasi oleh rabi ekstremis Meir Kahane, tokoh yang juga pernah didukung gerakan Kach oleh Ben Gvir.
Kach sendiri dilarang di Israel setelah simpatisannya, Baruch Goldstein, membunuh 29 jemaah Palestina di sebuah masjid di Hebron pada 1994. Ben Gvir pernah memajang potret Goldstein di ruang tamunya, sebelum akhirnya menurunkannya ketika mulai masuk ke politik arus utama.
Ia juga memiliki sejarah panjang berhadapan dengan hukum. Saat muda, ia didakwa lebih dari 50 kali atas tuduhan penghasutan kekerasan atau ujaran kebencian, meski ia mengklaim bebas dari 46 dakwaan dan kemudian mempelajari hukum agar bisa membela dirinya sendiri.
Ben Gvir pernah mengatakan kepada AFP pada 2022 bahwa dirinya telah berubah, meski tidak sepenuhnya meninggalkan pandangan lamanya. Ia mengakui tak lagi berpikir seperti 20 tahun lalu saat mengatakan ingin mengusir semua orang Arab, tetapi ia juga menegaskan tidak akan meminta maaf atas ucapannya itu.
Source: mediaindonesia.com