Emirat Arab kini bergerak bersama Arab Saudi dan Qatar untuk mendorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar tidak memulai perang baru dengan Iran. Tiga negara Teluk itu menilai jalur negosiasi masih perlu diberi ruang karena perang hanya akan memperbesar risiko ekonomi dan keamanan di kawasan.
Dorongan diplomatik ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa konflik bersenjata dapat memukul infrastruktur energi Teluk dan mengganggu stabilitas regional. Abu Dhabi, Riyadh, dan Doha juga melihat pembicaraan sebagai cara paling masuk akal untuk menahan eskalasi yang bisa merugikan semua pihak.
Pergeseran Sikap Emirat Arab
Langkah Emirat Arab menarik perhatian karena Abu Dhabi sebelumnya dikenal lebih keras terhadap Teheran. Kini, posisi itu berubah ke arah yang lebih hati-hati seiring meningkatnya ancaman pembalasan Iran jika permusuhan kembali pecah.
Perubahan sikap tersebut menunjukkan bahwa negara-negara Teluk membaca perang bukan hanya sebagai isu keamanan, tetapi juga ancaman langsung bagi ekonomi mereka. Bagi kawasan yang sangat bergantung pada arus energi dan perdagangan, satu eskalasi besar bisa memicu kerugian yang luas.
Peringatan untuk Trump
Dalam panggilan telepon terpisah dengan Trump, para pemimpin ketiga negara sekutu AS itu menyampaikan bahwa aksi militer tidak akan memberi hasil jangka panjang terhadap Iran. Mereka menilai konfrontasi bersenjata justru berpotensi memperburuk keamanan energi global dan memicu biaya yang sulit dikendalikan.
Kekhawatiran tersebut tidak muncul tanpa dasar. Pengalaman antara akhir Februari hingga gencatan senjata awal April menunjukkan bahwa serangan balasan Iran dan kelompok militan pendukungnya dapat menimbulkan kerusakan besar pada infrastruktur energi dan jatuhnya banyak korban jiwa di wilayah Teluk.
Risiko Besar bagi Infrastruktur Teluk
Kerusakan yang dikhawatirkan negara-negara Teluk mencakup titik-titik vital seperti pelabuhan dan jalur logistik. Serangan ribuan drone dan rudal juga pernah menghantam sektor yang menopang aktivitas ekonomi kawasan, sehingga dampaknya terasa luas.
Ancaman lain datang dari Selat Hormuz yang sempat terganggu dan menekan ekspor minyak serta gas alam negara-negara GCC. Selain itu, serangan drone terbaru pada pembangkit listrik tenaga nuklir Emirat memperlihatkan betapa rentannya infrastruktur strategis di kawasan ini.
Mediasi Pakistan dan Harapan Kesepakatan
Di tengah situasi tegang itu, Iran dan Amerika Serikat masih bertukar pesan melalui mediasi Pakistan untuk mencari kesepakatan damai permanen. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan ada sedikit kemajuan dalam proses negosiasi tersebut.
Panglima Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, juga dijadwalkan berkunjung ke Iran sebagai bagian dari upaya mediasi. Meski ada tanda-tanda positif, Anwar Gargash, penasihat senior Presiden Emirat, menilai peluang tercapainya kesepakatan masih berada di level 50-50.
Gargash juga menekankan perlunya solusi politik yang tidak berlarut-larut. Ia menyebut kekhawatiran bahwa Iran bisa terlalu panjang dalam bernegosiasi dan berharap hal itu tidak terjadi kali ini karena kawasan sangat membutuhkan hasil nyata.
Dilema di Washington
Trump kini berada dalam posisi yang rumit karena memiliki dua tekanan sekaligus. Di satu sisi, ada dorongan untuk melemahkan program rudal balistik Iran, tetapi di sisi lain perang berpotensi menelan biaya besar bagi Amerika Serikat dan memicu lonjakan harga energi.
Kondisi itu membuat konflik semakin tidak populer di mata publik AS. Kekhawatiran negara-negara Teluk juga meningkat karena Israel tetap melihat Iran sebagai ancaman eksistensial dan membuka kemungkinan serangan lanjutan untuk melumpuhkan kekuatan militer Teheran secara permanen.
Saudi dan Emirat kini menempatkan stabilitas kawasan sebagai prioritas utama, termasuk dengan mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz secara permanen dan menjaga tekanan diplomatik tetap hidup. Mereka berharap Washington memilih jalur politik ketimbang konfrontasi militer yang bisa menghapus tanda-tanda pemulihan di Teluk.
Source: mediaindonesia.com