Serangan AS Ke Iran Lagi, Minyak Dunia Meroket Dan Selat Hormuz Makin Rawan

Author: Qoo Media

Harga minyak dunia langsung melompat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara terbaru ke wilayah Iran. Lonjakan itu muncul karena pasar kembali khawatir pasokan energi global terganggu di tengah konflik yang belum mereda.

Minyak mentah acuan Brent naik 3,75 persen menjadi USD 97,83 per barel. Sementara itu, minyak mentah pasar AS ikut menguat 4 persen ke level USD 92,22 per barel.

Pasar bereaksi cepat terhadap eskalasi konflik

Kenaikan harga terjadi segera setelah kabar operasi militer AS menyebar luas ke pasar. Reaksi cepat ini menunjukkan betapa sensitifnya perdagangan minyak terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Kondisi tersebut juga menambah tekanan pada pasar energi yang masih menghadapi ketidakpastian. Di saat yang sama, kekhawatiran terhadap stabilitas harga ikut meningkat ketika upaya pemulihan inflasi global belum sepenuhnya solid.

Bandar Abbas dan Selat Hormuz jadi sorotan

Komando Pusat AS atau Centcom mengonfirmasi bahwa pasukannya membidik fasilitas militer strategis di kota pelabuhan Bandar Abbas. Centcom juga menyebut telah menembak jatuh empat drone Iran yang dianggap menimbulkan ancaman di sekitar Selat Hormuz.

Wilayah Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian karena jalur ini sangat penting bagi distribusi energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan gas alam cair atau LNG biasanya melintasi perairan sempit tersebut.

Gangguan di jalur itu langsung memengaruhi biaya logistik global. Saat akses pelayaran tersendat, kapal harus memutar lebih jauh dan ongkos distribusi ikut membengkak.

Gencatan senjata terancam buyar

Serangan terbaru ini juga memperburuk situasi diplomatik yang sebelumnya mulai bergerak ke arah penurunan ketegangan. Washington dan Tehran sempat menyepakati gencatan senjata sementara untuk membuka ruang dialog, tetapi langkah militer terbaru AS membuat arah pembicaraan kembali rapuh.

Ketegangan yang muncul sekarang terjadi di tengah proses negosiasi aktif untuk mengakhiri perselisihan yang sudah berlangsung selama tiga bulan. Di sisi lain, operasi gabungan sebelumnya yang diinisiasi militer Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari juga masih menyisakan dampak besar bagi hubungan kedua negara.

Iran merespons keras serangan-serangan itu dan mengeluarkan ancaman pembalasan. Tehran menyatakan akan menyerang setiap kapal komersial maupun militer yang nekat melintasi rute pelayaran strategis tersebut.

Dampak ke pasar energi masih berlanjut

Selat Hormuz kini kembali dipandang sebagai titik paling rawan dalam perdagangan energi internasional. Gangguan sekecil apa pun di kawasan itu bisa segera mengguncang harga pasar dalam hitungan jam.

Karena itu, para pelaku pasar terus mencermati perkembangan militer dan diplomatik di Timur Tengah. Selama ancaman terhadap jalur pelayaran dan pasokan minyak belum mereda, harga energi dunia berpeluang tetap bergerak liar.

Source: www.suara.com
Terbaru