Iran Tegaskan Kesepakatan Tergantung Sikap AS, Tuntutan Berlebihan Jadi Penentu

Iran menegaskan bahwa peluang tercapainya kesepakatan final dalam perundingan dengan Amerika Serikat masih sangat bergantung pada sikap Washington. Kementerian Luar Negeri Iran menyampaikan pernyataan itu dengan menyoroti kebutuhan agar AS menghentikan tuntutan yang dinilai berlebihan dalam proses diplomatik yang sedang berlangsung.

Pernyataan tersebut merujuk pada penjelasan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang disebut menilai hasil akhir perundingan akan ditentukan oleh perubahan pendekatan pihak AS. Dalam keterangan yang dibagikan Jumat (29/5), Iran juga menekankan bahwa jalur diplomatik tetap berjalan, meski masih ada sejumlah hambatan yang belum terselesaikan.

Komunikasi diplomatik Iran dan Oman

Araghchi sebelumnya berbicara lewat sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi. Percakapan itu menjadi bagian dari upaya diplomatik yang disebut terus berlangsung di tengah ketegangan antara Teheran dan Washington.

Oman selama ini kerap dipandang memainkan peran penting dalam komunikasi antara Iran dan pihak-pihak lain di kawasan. Dalam konteks perundingan saat ini, keterlibatan Oman menambah ruang untuk menjaga saluran diplomasi tetap terbuka meski perbedaan posisi masih kuat.

Isu nuklir dan Selat Hormuz masih menjadi ganjalan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa beberapa isu utama belum menemukan titik temu, terutama yang berkaitan dengan program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Meski begitu, Trump menyebut Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan pada sejumlah isu lain yang dinilai tidak terlalu penting.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa pembahasan antara kedua negara masih terbelah pada poin-poin strategis. Program nuklir Iran dan akses terhadap Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama karena keduanya menyangkut keamanan regional dan kepentingan ekonomi global.

Ketegangan meningkat di tengah perundingan

Situasi perundingan berlangsung di tengah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang menimbulkan kerusakan serta korban sipil. Serangan tersebut terjadi saat pembicaraan dan kesepakatan gencatan senjata masih dibahas, sehingga memperumit jalannya diplomasi.

Pada 7 April, AS dan Iran disebut menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Namun, dinamika di lapangan tetap dipenuhi langkah saling tekan, termasuk blokade yang diberlakukan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Iran juga menutup Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi barang, yang menambah risiko terhadap arus perdagangan dan stabilitas kawasan. Dalam kondisi seperti ini, pernyataan Iran soal kesepakatan final yang bergantung pada sikap AS menjadi sinyal bahwa pembicaraan masih jauh dari selesai dan sangat ditentukan oleh perubahan posisi Washington.

Source: mediaindonesia.com
Exit mobile version