Menkeu AS Buka Tiga Jalan Perundingan Iran, Damai, Tekanan, atau Perang

Pemerintah Amerika Serikat memetakan tiga kemungkinan dari perundingan yang masih berlangsung dengan Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut opsi itu mencakup tercapainya kesepakatan, tidak ada kesepakatan tetapi tekanan ekonomi tetap berjalan, atau kembalinya tindakan militer.

Bessent menegaskan bahwa Washington masih menilai jalur diplomasi terbuka, tetapi AS juga tetap menyiapkan tekanan tambahan jika pembicaraan tidak menghasilkan kemajuan. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa negosiasi dengan Teheran masih bergerak di antara peluang kompromi dan ancaman eskalasi.

Tiga skenario yang dipaparkan Washington

Dalam Forum Ekonomi Reagan 2026, Bessent menjelaskan bahwa ada tiga hasil yang mungkin terjadi dari perundingan dengan Iran. Ia menyebut skenario pertama adalah kesepakatan, skenario kedua adalah tidak ada kesepakatan namun blokade dan tekanan tetap dipertahankan, sedangkan skenario ketiga adalah penggunaan kembali tindakan militer.

Pernyataan itu menegaskan pendekatan AS yang tidak hanya bergantung pada jalur diplomatik. Washington juga menunjukkan kesiapan untuk mempertahankan tekanan ekonomi sebagai alat tawar jika negosiasi tidak bergerak ke arah yang diharapkan.

Tekanan ekonomi masih menjadi alat utama

Bessent mengatakan tekanan ekonomi yang berkepanjangan akan semakin memperberat kondisi Iran. Ia juga menyebut Departemen Keuangan AS masih memiliki ruang untuk menambah sanksi terhadap target finansial Iran.

“Kami masih mempunyai berbagai instrumen yang dapat digunakan untuk memperketat pembatasan terhadap Teheran apabila negosiasi tidak menghasilkan kemajuan yang diharapkan,” ujar Bessent. Pernyataan ini menguatkan sinyal bahwa Washington belum menutup opsi non-militer untuk menekan Iran.

Langkah itu sejalan dengan kebijakan AS yang disebut sudah mulai memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran. Blokade tersebut menjadi bagian dari strategi tekanan ekonomi di tengah perundingan yang belum menunjukkan hasil pasti.

Perundingan masih dibayangi ketegangan

Hubungan kedua negara memburuk setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari lalu. Serangan itu dilaporkan merusak infrastruktur dan menimbulkan korban sipil.

Setelah insiden tersebut, Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan yang mulai berlaku pada 7 April. Kesepakatan itu memberi ruang untuk meredakan konflik dan membuka kembali jalur diplomasi.

Namun, pembicaraan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan yang jelas. Situasi itu membuat proses negosiasi tetap rapuh, terutama karena isu-isu utama masih belum menemukan titik temu.

Isu yang belum selesai

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut masih ada sejumlah persoalan besar yang belum terselesaikan. Dua isu yang paling menonjol adalah program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz, yang memegang peran penting dalam perdagangan energi dunia.

Trump juga mengatakan kedua pihak sudah mencapai kesepahaman di beberapa isu lain. Meski begitu, ia menilai poin-poin tersebut tidak sepenting masalah utama yang masih dinegosiasikan.

Dari sisi Iran, Kementerian Luar Negeri menegaskan peluang tercapainya kesepakatan final sangat bergantung pada sikap Amerika Serikat. Teheran meminta Washington menghentikan tuntutan yang dianggap berlebihan dan mengakhiri langkah-langkah yang dinilai bertentangan dengan proses perundingan.

Di tengah posisi yang masih saling berseberangan itu, masa depan pembicaraan AS-Iran tetap ditentukan oleh apakah kedua pihak memilih kompromi, mempertahankan tekanan, atau kembali ke jalur konfrontasi yang lebih keras.

Source: www.beritasatu.com

Berita Terkait

Back to top button