
Kelompok Hizbullah mengklaim telah menyerang pasukan Israel di kota al-Bayyada, Lebanon Selatan, dan menyebut operasi itu menimbulkan kerugian bagi militer Israel. Klaim tersebut muncul di tengah laporan yang menggambarkan pasukan Israel semakin terdesak, sementara kemampuan tempur Hizbullah justru dinilai terus meningkat.
Dalam pernyataan resminya, Hizbullah mengatakan salah satu serangan diarahkan ke pusat komando militer Israel menggunakan rentetan roket. Kelompok itu juga mengaku menembakkan rudal ke satu unit Israel di kota tersebut, lalu menyerang unit yang sama lagi dalam operasi terpisah.
Serangan ke tank dan posisi militer
Hizbullah juga menyatakan telah menghancurkan dua tank Merkava milik Israel di al-Bayyada dengan rudal berpemandu. Pernyataan ini menambah daftar klaim serangan yang dikaitkan dengan operasi kelompok itu di wilayah Lebanon selatan.
Laporan tersebut menjadi penting karena memperlihatkan pola pertempuran yang belum berpihak pada Israel. Di saat pasukan darat Israel terus bergerak di Lebanon selatan, Hizbullah mengklaim masih mampu melancarkan serangan yang terukur terhadap sasaran militer.
Analisis perang yang makin buntu
Perkembangan di lapangan ini sejalan dengan analisis The New York Times yang menyebut invasi Israel ke Lebanon semakin mengalami kebuntuan setelah pertempuran berlangsung selama berbulan-bulan. Laporan itu menilai Israel belum mendapatkan hasil yang diharapkan dari operasi militernya.
Salah satu faktor yang disorot adalah penggunaan drone FPV berbasis serat optik oleh Hizbullah. Teknologi ini membuat pasukan Israel kesulitan karena drone dikendalikan melalui kabel serat optik, sehingga tidak mudah diganggu oleh sistem pengacau sinyal elektronik.
Kondisi itu memberi keuntungan taktis bagi Hizbullah. Pasukan Israel disebut menjadi target yang lebih mudah diserang, sekaligus memperlihatkan kelemahan dalam persiapan dan taktik militer mereka di medan tempur.
Korban dan tekanan di garis depan
Sumber militer Israel menyebut serangan drone pada Senin menewaskan dua tentara dan melukai 10 lainnya. Di sisi lain, Hizbullah merilis video yang memperlihatkan drone mereka melacak dan menyerang tentara serta komandan Israel di Lebanon maupun di wilayah Palestina yang diduduki Israel.
Pengamat Israel, Boaz Haetzni, juga menyoroti efektivitas drone generasi baru yang digunakan Hizbullah. Ia menyebut drone itu murah, komponennya mudah diperoleh, dan operatornya bisa mengendalikan serangan dari jarak aman.
"Drone adalah pisau dalam bentuk teknologi," ujarnya. Haetzni menambahkan bahwa belum ada solusi yang benar-benar efektif untuk menghadapi drone serat optik selain perlindungan fisik, sementara kemampuan deteksi dan pencegatan masih terbatas.
Ancaman yang urung dijalankan
Laporan analisis tersebut juga menyoroti ancaman Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membombardir kawasan pinggiran selatan Beirut. Ancaman itu kemudian tidak jadi dilakukan, dan perubahan sikap tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya kesulitan Israel di medan perang.
Pada awal operasi militer, Israel disebut berusaha membentuk zona penyangga di Lebanon selatan dan mendorong Hizbullah menjauh dari perbatasan. Namun, analisis itu menyimpulkan bahwa Hizbullah tidak hanya tetap bertahan, tetapi juga dinilai lebih kuat dibanding saat invasi dimulai.
Para pejabat dan analis militer Israel disebut masih mengakui belum ada jawaban yang efektif untuk menghadapi ancaman drone serat optik yang makin meluas. Situasi ini membuat medan perang di Lebanon selatan tetap menjadi ruang tekanan bagi Israel, sementara Hizbullah terus mengklaim mampu mempertahankan inisiatif serangan.
Source: www.viva.co.id








