Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio kembali menjadi sorotan setelah ditanya langsung soal kepemilikan senjata nuklir Israel dalam sidang di Kongres. Dalam forum itu, Rubio tidak memberi jawaban tegas dan memilih menjaga posisi diplomatik Washington yang selama ini tidak pernah secara terbuka mengakui atau membantah kemampuan nuklir Israel.
Pertanyaan itu datang dari anggota Kongres Joaquin Castro, yang mendorong pemerintah AS memberi kejelasan di tengah meningkatnya ketegangan regional. Rubio hanya menyebut, “Sebagian besar dunia menilai bahwa mereka memilikinya,” lalu menolak menguraikan sikap resmi AS dan menyarankan pembahasan dilakukan secara tertutup.
Ambiguitas strategis Washington
Sikap Rubio memperlihatkan kebijakan lama AS yang kerap disebut sebagai ambiguitas strategis. Dalam praktiknya, Washington memilih tidak mengonfirmasi kemampuan nuklir Israel di ruang publik, meski isu itu sudah lama menjadi perhatian luas di level internasional.
Rubio juga mengakui bahwa sikap diam itu merupakan bagian dari fitur kebijakan luar negeri AS. Jawaban tersebut menunjukkan bahwa pemerintah AS masih mempertahankan garis diplomatik yang hati-hati ketika membahas salah satu isu paling sensitif di Timur Tengah.
Castro menilai transparansi justru penting, terutama karena AS ikut terlibat dalam ketegangan militer bersama Israel melawan Iran. Ia mempertanyakan bagaimana Kongres bisa menilai risiko perang jika tidak mengetahui apa yang disebutnya sebagai “garis merah” penggunaan senjata nuklir oleh Israel.
Tekanan dari Kongres
Castro tidak berdiri sendiri dalam desakan itu. Ia bersama 30 anggota parlemen lain mengirim surat kepada Departemen Luar Negeri AS untuk meminta penjelasan mengenai posisi resmi pemerintah terhadap kemampuan nuklir Israel.
Para anggota parlemen tersebut berargumen bahwa kebijakan nonproliferasi AS di Timur Tengah tidak akan konsisten jika Washington tetap membiarkan status nuklir salah satu pihak utama konflik berada dalam ruang abu-abu. Mereka menilai informasi semacam itu penting bagi badan pengawas di Kongres yang ikut mengambil keputusan strategis terkait perang dan keamanan.
Rubio menyebut pertanyaan Castro sebagai hal yang adil, tetapi ia tetap menegaskan bahwa jawaban yang lebih lengkap hanya bisa diberikan dalam format rahasia. Dengan begitu, sidang itu kembali menegaskan bahwa isu nuklir Israel masih menjadi tabu diplomatik yang dijaga ketat di Washington.
Latar sensitif di Timur Tengah
Israel secara luas diyakini memiliki arsenal nuklir, meski bukan penandatangan Traktat Non-Proliferasi Nuklir atau NPT. Hingga kini, Tel Aviv tidak pernah secara resmi mengonfirmasi maupun membantah keberadaan senjata pemusnah massal tersebut.
Isu ini makin sensitif setelah sejumlah pernyataan kontroversial dari pejabat Israel dan politikus pro-Israel muncul dalam beberapa waktu terakhir. Pada November 2023, Menteri Warisan Budaya Amichai Eliyahu sempat menyebut bahwa menjatuhkan bom nuklir di Gaza adalah salah satu pilihan.
Di Amerika Serikat, politikus pro-Israel Randy Fine juga pernah menyerukan penggunaan kekuatan nuklir terhadap Palestina dan membandingkannya dengan serangan AS ke Jepang pada Perang Dunia II. Pernyataan-pernyataan itu ikut memperbesar kekhawatiran publik tentang arah eskalasi konflik jika isu nuklir terus berada di luar pengawasan terbuka.
Dalam konteks yang sama, pemerintahan Donald Trump pada 28 Februari lalu bergabung dengan Israel dalam serangan terhadap Iran dengan tujuan mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir, klaim yang terus dibantah Iran. Situasi tersebut membuat pertanyaan Kongres tentang posisi nuklir Israel terasa makin relevan, karena kebijakan AS di kawasan itu dinilai tidak bisa dipisahkan dari isu pencegahan proliferasi senjata nuklir dan risiko eskalasi perang yang lebih luas.
Source: mediaindonesia.com