Menata Ulang Kota untuk Menekan Emisi, Riset Global Ungkap Titik Paling Menentukan

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa cara paling efektif menekan emisi dari transportasi bukan hanya soal mengganti kendaraan, melainkan juga menata ulang bentuk kota. Temuan ini menegaskan bahwa lokasi hunian, jarak ke tempat kerja, dan kepadatan kawasan berperan besar dalam menentukan seberapa sering warga bergantung pada mobil.

Studi yang dimuat dalam jurnal Environmental Research Letters itu menilai bahwa kota rendah emisi bisa dibangun lewat kebijakan tata ruang yang lebih tepat sasaran. Hasilnya, peningkatan kepadatan penduduk terbukti lebih efektif bila dilakukan di area yang dekat dengan pusat aktivitas dan koridor perjalanan utama.

AI dan data mobilitas mengungkap pola baru

Tim peneliti dari Potsdam Institute for Climate Impact Research, University of California, Berkeley, dan University of Sussex menganalisis 10 juta titik data mobilitas GPS. Mereka memeriksa pola perjalanan di enam wilayah metropolitan, yaitu Berlin, Boston, Los Angeles, wilayah Teluk San Francisco, Rio de Janeiro, dan Bogotá.

Dengan bantuan kecerdasan buatan dan analisis kausal, riset ini menghubungkan struktur kota dengan perilaku mengemudi secara lebih rinci. Hasilnya menunjukkan bahwa kepadatan penduduk dan konektivitas jalan saling berkaitan erat, sementara pendapatan hanya berdampak tidak langsung melalui pilihan lokasi tempat tinggal.

Pemimpin studi, Felix Wagner, menilai temuan itu mengubah cara perencana kota membaca hubungan antara tata ruang dan emisi. Ia menekankan bahwa jarak ke pusat kota dan tempat kerja menjadi faktor kunci, sedangkan kepadatan tidak bisa dinilai sendirian tanpa melihat aksesibilitas dan konektivitas.

Efek kepadatan ternyata berbeda di tiap lokasi

Riset ini juga menunjukkan bahwa kebijakan menambah kepadatan tidak bisa diterapkan seragam di semua wilayah. Dampaknya sangat spesifik secara spasial, sehingga satu intervensi bisa sangat efektif di satu lingkungan tetapi hampir tak berpengaruh di area yang berdekatan.

Peneliti PIK, Felix Creutzig, menjelaskan bahwa satu tindakan bisa memangkas jarak perjalanan secara signifikan di satu kawasan, tetapi hanya memberi efek kecil dua kilometer dari sana. Di Berlin, misalnya, volume emisi per perjalanan tercatat bervariasi dari minus 0,8 hingga plus 2,9 kilogram karbon dioksida dibanding rata-rata kota, tergantung karakter lingkungan tempat tinggal.

Dua model kota, dua strategi berbeda

Studi ini memetakan dua pola besar tata ruang kota. Pada kota monosentris seperti Boston dan Berlin, intervensi paling efektif muncul di koridor berbentuk cincin yang mengelilingi pusat kota.

Di Boston, peningkatan kepadatan paling relevan berada pada jarak 10 hingga 21 kilometer dari pusat kota. Sementara di Rio de Janeiro, koridor efektif itu meluas hingga sekitar 40 kilometer ke arah luar.

Berbeda dengan itu, kota polisentris seperti Los Angeles dan wilayah Teluk San Francisco membutuhkan pendekatan lain. Di wilayah dengan banyak pusat kegiatan, penurunan emisi lebih efektif dicapai dengan memperpadat area yang memiliki konsentrasi peluang kerja tinggi.

Wilayah pinggiran butuh kebijakan tambahan

Untuk kawasan yang jauh dari pusat kerja, para peneliti menilai tata ruang saja belum cukup. Wilayah semacam ini memerlukan langkah pendukung seperti pengembangan kota berorientasi transit, pembatasan pembangunan lahan baru, program berbagi kendaraan, dan pengaturan kerja dari rumah.

Temuan tersebut memberi gambaran bahwa strategi pengurangan emisi transportasi harus mengikuti struktur kota masing-masing. Dengan kata lain, penurunan emisi bisa dipercepat jika perencana kota memahami di mana kepadatan perlu ditambah, kapan akses transportasi harus diperkuat, dan kawasan mana yang membutuhkan kebijakan pelengkap agar ketergantungan pada mobil bisa turun secara nyata.

Source: www.suara.com
Exit mobile version