Amerika Serikat dan Iran kini berada di jalur yang semakin dekat menuju kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari. Dari laporan yang beredar, kemajuan pembicaraan itu sudah mencapai sekitar 80 hingga 85 persen, meski sejumlah poin penting masih belum selesai dibahas.
Perkembangan ini muncul setelah berhari-hari ketegangan, saling serang, dan ketidakpastian yang memicu perhatian luas. Di tengah proses yang masih rapuh, mediator dari Pakistan dan Qatar tetap mendorong kedua pihak agar segera menemukan titik temu.
Rancangan kesepakatan mulai dibentuk
Rancangan perjanjian gencatan senjata disebut disusun oleh pejabat dari AS, Iran, dan Pakistan pada Jumat (12/6). Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyampaikan melalui media sosial bahwa teks kesepakatan damai telah tercapai.
Seorang pejabat senior pemerintahan Donald Trump juga membenarkan bahwa pembahasan telah memasuki tahap akhir. Namun, pejabat itu menegaskan bahwa persetujuan dari Teheran masih menyisakan ketidakpastian.
“Sebagian besar orang yang kami ajak bicara dan memiliki otoritas ingin menandatangani kesepakatan ini, tetapi tidak semua orang setuju,” kata pejabat tersebut dalam pernyataan anonim.
Isu yang paling sensitif: Selat Hormuz dan nuklir
Isi kesepakatan yang disebut sebagai Memorandum Kesepahaman Islamabad memuat sejumlah poin strategis. Salah satunya adalah perpanjangan gencatan senjata awal selama 60 hari.
Poin lain menyangkut Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang selama ini menjadi perhatian utama dalam konflik kawasan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut Iran diharapkan membuka kembali jalur itu, tetapi Iran dan Oman tetap akan memegang kendali serta mengenakan biaya layanan bagi kapal yang melintas.
Selain itu, Iran juga diminta bekerja sama dengan AS untuk membongkar material nuklir yang bisa dipakai untuk senjata. Sebagai imbalannya, Iran disebut akan memperoleh pelonggaran sanksi, penghentian blokade AS, serta akses ke aset bernilai miliaran dolar yang dibekukan, dengan syarat tertentu harus dipenuhi terlebih dahulu.
Sikap Iran, AS, dan kekhawatiran yang tersisa
Abbas Araghchi menyatakan optimisme dan mengatakan Dewan Keamanan Nasional Iran diharapkan mengambil keputusan final dalam beberapa hari ke depan. Pernyataan itu memberi sinyal bahwa pembicaraan masih berlanjut, meski hasil akhirnya belum bisa dipastikan.
Di sisi lain, pejabat AS menilai narasi dari pihak Iran masih dipakai untuk kepentingan domestik. Kritik itu menunjukkan bahwa kepercayaan antara kedua pihak belum pulih, walau draf kesepakatan sudah semakin jelas.
Kepastian teknis juga masih menjadi sorotan para ahli non-proliferasi. Kelsey Davenport dari Arms Control Association menilai ada ketidakpastian besar soal verifikasi penghancuran material nuklir dan sentrifus Iran.
Israel tetap waspada terhadap arah pembicaraan
Sikap hati-hati juga datang dari Israel, yang terus memantau perkembangan negosiasi AS-Iran. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan negaranya harus tetap memiliki kemampuan bertindak secara independen untuk mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa kesepakatan antara Washington dan Teheran belum tentu menghapus seluruh kekhawatiran keamanan di kawasan. Selama itu, logistik final mengenai waktu dan lokasi penandatanganan resmi masih dibahas oleh pihak-pihak terkait.
Konflik yang memuncak sejak 28 Februari lalu, saat AS dan Israel meluncurkan serangan besar-besaran terhadap kepemimpinan politik dan militer Iran, masih meninggalkan dampak luas. Ketegangan itu juga telah mendorong lonjakan harga gas dan komoditas global, sehingga hasil akhir pembicaraan ini tetap dinantikan dengan perhatian tinggi.
Source: mediaindonesia.com






