Tentara Israel menyatakan telah menewaskan Ahmed Samir Muhammad Washah, sosok yang mereka sebut sebagai anggota sayap militer Hamas sekaligus berpura-pura menjadi fotojurnalis Al Jazeera. Pengumuman itu menambah sorotan pada peran ganda yang dituduhkan militer Israel di tengah perang yang masih berlangsung di Gaza.
Menurut IDF, Washah bekerja sebagai operatif penembak jitu di sayap militer Hamas. Ia tewas dalam serangan Israel di tengah Jalur Gaza bersama dua anggota Hamas lainnya, setelah sebelumnya disebut terlibat dalam perencanaan serangan terhadap pasukan IDF.
Tuduhan soal peran ganda di medan perang
Militer Israel mengatakan Washah dalam beberapa bulan terakhir mendorong rencana serangan sniper dan aktivitas teror tambahan terhadap pasukan yang beroperasi di Gaza. IDF menyebut alasan itu sebagai dasar penargetan dirinya.
Foto yang dirilis militer juga menampilkan Washah sebagai “jurnalis Al Jazeera” yang dikaitkan dengan Hamas. Dalam pernyataannya, IDF menggambarkan kasus ini sebagai bagian dari aktivitas Hamas yang memanfaatkan identitas media untuk menutupi peran militernya.
Keluarga dengan tuduhan serupa
IDF juga menyebut saudara Washah pernah berpura-pura menjadi jurnalis Al Jazeera dan tewas di tangan pasukan Israel pada April. Saudara itu, Muhammad Samir Muhammad Washah, menurut militer, bekerja di markas produksi roket dan senjata Hamas.
Militer mengatakan saudara Washah terlibat dalam pengembangan drone, roket, dan senjata lain, serta berperan dalam pemindahan senjata melintasi Gaza selama perang. IDF menambahkan bahwa ia ikut membangun kekuatan Hamas dan terlibat langsung dalam perencanaan serangan.
Klaim ancaman langsung terhadap pasukan Israel
Dalam penjelasannya, IDF menyatakan peran Muhammad Samir Muhammad Washah menciptakan ancaman nyata bagi pasukan di lapangan. Militer menyebut keterlibatannya dalam perencanaan serangan sebagai ancaman konkret, sementara Washah sendiri juga dituduh memperkuat kapasitas serangan Hamas dari dalam struktur militernya.
Kematian Washah dan saudaranya menempatkan kembali perhatian pada tuduhan Israel bahwa Hamas menyamarkan operatif militernya dengan identitas sipil atau media. Dalam kasus ini, Al Jazeera disebut sebagai afiliasi tempat keduanya diduga menyamar, sementara IDF menegaskan keduanya tetap aktif dalam aktivitas militer Hamas.







