Tetangga Bantu Pencarian di Venezuela, Korban Gempa Tembus 235 Jiwa

Author: Qoo Media

Tim penyelamat dari berbagai negara bergerak cepat ke Venezuela setelah dua gempa kuat menghancurkan permukiman, merobohkan bangunan, dan memicu pencarian besar-besaran untuk korban yang masih terjebak. Di tengah reruntuhan, jumlah korban tewas terus naik menjadi 235 orang, sementara ribuan warga lain terluka dan banyak keluarga menunggu kabar orang terdekat mereka.

Gempa berkekuatan 7,2 dan 7,5 itu termasuk yang terkuat yang mengguncang Venezuela dalam lebih dari satu abad. Getarannya terasa hingga ke berbagai wilayah di kawasan, dan dampaknya paling berat terlihat di wilayah pesisir La Guaira, di utara Caracas.

Otoritas menyebut 4.300 orang আহত dan banyak rumah sakit penuh pasien. Ratusan orang lain masih diduga terjebak di bawah puing, membuat operasi pencarian tetap menjadi prioritas utama.

Relawan ikut turun tangan

Di La Guaira, warga sipil ikut menggali reruntuhan dengan tangan kosong saat keluarga menunggu kabar kerabat yang hilang. Di sepanjang jalan raya Caracas-La Guaira, arus warga membawa air, makanan, dan obat-obatan untuk membantu kebutuhan darurat.

Bagi banyak keluarga, bencana ini langsung memutus tempat tinggal dan mata pencarian. Pedro Perez, pemilik bengkel pelapis berusia 64 tahun, mengatakan ia kehilangan rumah dan usahanya, lalu tidur di jalan bersama istri dan anak-anaknya.

Dampak terburuk terkonsentrasi di La Guaira, tempat lebih dari 100 bangunan dilaporkan runtuh. Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello mengatakan sedikitnya 70.000 keluarga terdampak, sementara bandara internasional utama Venezuela di wilayah itu juga ditutup karena kerusakan.

Di Caracas, suasana panik dan kehancuran juga meluas. Banyak warga memilih tidur di jalan atau di dalam mobil karena takut bangunan lain ikut roboh.

“People are afraid to go back into their houses,” kata jurnalis Maria Emilia Miro Quesada kepada Al Jazeera dari Caracas. Ia menambahkan, banyak warga masih diliputi ketidakpastian soal kondisi struktur bangunan dan tingkat kerusakan.

Bantuan internasional mengalir

Negara-negara di Amerika, termasuk Brazil, Canada, Mexico, Colombia, El Salvador, Cuba, dan Amerika Serikat, mengirim tim pencari dan penyelamat serta bantuan kemanusiaan. Perserikatan Bangsa-Bangsa juga ikut mengerahkan dukungan di tengah operasi yang masih berlangsung.

Kepala bantuan PBB, Tom Fletcher, mengatakan kepada warga Venezuela bahwa bantuan sedang diupayakan untuk menjangkau mereka yang kehilangan keluarga dan rumah. Di Bogota, jurnalis Al Jazeera Alessandro Rampietti menilai upaya lintas kawasan itu penting untuk menyelamatkan orang sekaligus memenuhi kebutuhan ribuan korban luka.

Amerika Serikat menyebut akan menjalankan “whole-of-government response” yang mencakup rencana pengerahan kapal perang, pesawat angkut, dan helikopter, serta mobilisasi bantuan senilai 150 juta dolar AS. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan respons itu akan “big… fast and… effective”.

Brazil mengumumkan pengiriman rumah sakit lapangan, bersama puluhan pemadam kebakaran dan personel pendukung. El Salvador menyiapkan 300 penyelamat dan paramedis, serta 50 ton peralatan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar.

Mexico juga mengirim tim militer berisi penyelamat dan tenaga medis, dengan janji menambah bantuan bila dibutuhkan. Sementara itu, Colombia akan mengirim lebih dari 60 penyelamat dan 12 ton bantuan kemanusiaan ke negara tetangganya.

Kondisi pemulihan masih berat

Dukungan juga datang dari Eropa, China, India, dan Iran. Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah mengucurkan 2,5 juta dolar AS untuk membantu upaya pemulihan, sementara Vatikan mengumumkan bantuan darurat awal sebesar 100.000 euro.

Pemulihan di Venezuela diperkirakan berjalan lambat karena ekonomi yang sudah lama tertekan dan infrastruktur yang rapuh. Rampietti menyebut negara itu sudah berada dalam kondisi sangat sulit sebelum gempa, dengan pemadaman listrik yang sering dan layanan publik yang kacau.

Ia juga mengatakan banyak rumah sakit sebelumnya sudah beroperasi di bawah kapasitas. Kondisi itu membuat Venezuela kini kekurangan insinyur dan dokter yang dibutuhkan untuk menangani dampak bencana ini.

Terbaru