Baru Sepakati Damai, Iran Tuduh AS Langgar MoU dengan Serangan Udara

Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan udara Amerika Serikat ke wilayahnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap nota kesepahaman perdamaian yang baru disepakati. Pernyataan itu muncul setelah militer AS menyerang sejumlah lokasi di pesisir selatan Iran pada Jumat malam, yang oleh Teheran disebut menyasar fasilitas penjaga pantai.

Iran menegaskan serangan tersebut juga melanggar Piagam PBB dan isi paragraf pertama MoU. Dalam keterangan yang dipublikasikan melalui kanal resmi Telegram, kementerian itu mengecam tindakan yang mereka sebut sebagai “serangan brutal” dari militer AS terhadap wilayah kedaulatan Iran.

Latar kesepakatan damai

Iran dan AS sebelumnya menandatangani MoU secara elektronik pada 18 Juni untuk menghentikan konflik militer. Dokumen itu memberi waktu 60 hari bagi kedua pihak untuk merundingkan kesepakatan final mengenai program nuklir Iran dan pencabutan sanksi AS.

MoU tersebut juga memuat pengaturan soal pencabutan blokade maritim AS terhadap Iran. Selain itu, dokumen itu membuka jalan bagi pemulihan pelayaran melalui Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur penting perdagangan energi.

Respons Washington dan eskalasi susulan

Komando Pusat AS atau CENTCOM menyatakan serangan itu merupakan tanggapan atas dugaan serangan terhadap sebuah kapal dagang di Selat Hormuz sehari sebelumnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Washington menempatkan insiden di laut sebagai alasan utama di balik aksi militernya.

Setelah serangan AS, militer Iran disebut melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer AS di Timur Tengah. Ketegangan kedua negara pun kembali meningkat meski sebelumnya sudah ada kesepakatan untuk menghentikan konflik.

Rangkaian bentrokan yang memperburuk situasi

Dalam perkembangan sebelumnya, Amerika Serikat dan Israel juga melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari. Serangan itu menimbulkan kerusakan dan menewaskan warga sipil, menurut keterangan yang dirujuk dalam laporan tersebut.

Rangkaian kejadian itu memperlihatkan betapa rapuhnya kesepakatan yang baru dibangun. Di satu sisi, MoU dimaksudkan untuk meredakan konflik dan membuka ruang negosiasi, tetapi di sisi lain serangan udara justru memicu tudingan pelanggaran dari Teheran.

Fokus pada negosiasi nuklir dan sanksi

Isi MoU menempatkan program nuklir Iran dan pencabutan sanksi AS sebagai dua isu utama yang harus dirundingkan selama masa 60 hari. Karena itu, setiap serangan militer di tengah masa pembahasan dipandang dapat mengganggu kepercayaan antarkedua pihak.

Iran menilai serangan udara AS tidak hanya menyasar infrastruktur di pesisir selatan, tetapi juga merusak kerangka kesepakatan yang sudah dibangun. Situasi ini membuat masa depan pembicaraan lanjutan kembali dipertanyakan, terutama terkait implementasi blokade maritim dan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.

Source: www.viva.co.id

Terkait