Media independen terkemuka di Uganda mengatakan mereka berada di bawah “pengepungan militer” setelah kepala angkatan darat memerintahkan penutupan stasiun TV, surat kabar, dan radio. Daily Monitor menyebut tentara bersenjata berjaga di luar kantor pusatnya di Kampala, sementara NTV dan Spark TV dilaporkan sudah tidak mengudara.
Langkah itu langsung memicu sorotan karena media yang terdampak berada di bawah Nation Media Group, salah satu perusahaan media paling berpengaruh di Afrika Timur. Hingga kini, belum jelas apa yang memicu tindakan keras tersebut, tetapi pernyataan publik dari Gen Muhoozi Kainerugaba memperlihatkan sikap keras terhadap pers.
Pernyataan keras dari kepala militer
Di platform X, Gen Kainerugaba menulis bahwa ia tidak percaya pada pers bebas. Ia juga mengatakan pers seharusnya diarahkan oleh “kader revolusi”, dan mengklaim bahwa ayahnya memberinya kekuasaan untuk menutup media mana pun yang ia inginkan.
Ia menambahkan bahwa NTV dan Daily Monitor tidak akan dibuka kembali tanpa izinnya. Ia juga menyatakan bahwa mulai sekarang semua media di Uganda harus mengikuti aturan.
Daily Monitor mengatakan penutupan itu terjadi “dalam tindakan keras di jam-jam dini hari Minggu”. Menurut laporan media itu, staf mendapat informasi bahwa tidak ada seorang pun yang diizinkan masuk atau keluar dari kompleks, sementara pemirsa NTV Uganda dan Spark TV hanya disambut layar kosong dengan pesan “video unavailable”.
Latar politik yang membayangi
Presiden Yoweri Museveni, ayah Gen Kainerugaba, telah berkuasa sekitar 40 tahun dan baru saja memenangkan masa jabatan ketujuh dalam pemilu yang disengketakan pada Januari. Ada spekulasi luas bahwa ia sedang menyiapkan putranya untuk suatu hari menggantikannya.
Kelompok oposisi dan organisasi hak asasi manusia menuduh Gen Kainerugaba sebagai tokoh sentral dalam rezim yang sangat represif. Di sisi lain, para pendukung presiden dan keluarganya mengatakan mereka telah menjamin stabilitas di Uganda dan ekonomi membaik di bawah pemerintahan mereka.
Situasi politik itu juga diwarnai ketegangan selama pemilu Januari. Sebelum pemungutan suara, unjuk rasa oposisi kerap dibubarkan dan aparat keamanan beberapa kali melepaskan tembakan.
Jejak tekanan terhadap media
Ketegangan antara pemerintah dan media bukan hal baru di Uganda. Daily Monitor sebelumnya pernah digerebek polisi pada 2013 setelah penerbitan surat yang diduga mengaitkan pejabat senior pemerintah dengan rencana suksesi yang disebut “Muhoozi Project”.
NTV juga pernah dipaksa berhenti mengudara pada 2007 setelah pemerintah menuduh pemberitaan mereka bernada negatif. Dalam beberapa kesempatan, Museveni juga mengkritik Daily Monitor secara terbuka dan pernah menyebutnya sebagai “surat kabar musuh dan jahat” karena jurnalisme kritisnya.
Pernyataan keras Kainerugaba juga muncul setelah ia menuai kemarahan pada masa pemilu Januari. Dalam unggahan yang kemudian dihapus, ia sempat menulis tentang pembunuhan para pendukung oposisi dan mengancam akan membuang testis Bobi Wine, kandidat oposisi yang kalah.
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan pemilu itu berlangsung dalam “lingkungan yang ditandai oleh penindasan luas dan intimidasi terhadap oposisi politik”. Dalam konteks itu, penutupan media besar dan kehadiran tentara di luar kantor redaksi menambah kekhawatiran baru soal kebebasan pers di Uganda.







