Israel kembali menegaskan kesiapan untuk menyerang Iran jika menilai proyek nuklir Teheran terus berjalan ke arah yang berbahaya. Sikap ini muncul di tengah upaya Amerika Serikat dan Iran membangun jalur damai baru, sehingga tensi di kawasan justru kembali naik.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyampaikan pesan keras itu dalam wawancara dengan Channel 14. Ia menekankan bahwa Israel tidak akan menerima situasi yang memungkinkan Iran memiliki bom atom.
Peringatan keras dari Tel Aviv
Netanyahu menyebut tindakan ofensif Israel sebagai langkah untuk menyelamatkan diri dari ancaman yang ia gambarkan sangat serius. Dalam pernyataannya yang dikutip dari Anadolu, ia berkata, “Di Iran, kami menyelamatkan diri kami sendiri dari bom atom.”
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Israel masih menempatkan program nuklir Iran sebagai ancaman utama. Bagi Tel Aviv, opsi militer tetap terbuka meski jalur diplomasi kembali bergerak.
Kesepakatan AS-Iran tak meredakan kecurigaan Israel
Ancaman serangan susulan itu mencuat setelah nota kesepahaman antara Washington dan Teheran mulai berlaku pada 18 Juni. Kesepakatan tersebut ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump dengan mediasi dari Pakistan.
Kerangka itu dirancang untuk meredakan perseteruan panjang lewat negosiasi formal. Isi pembahasannya mencakup penghentian permusuhan, pencabutan sanksi ekonomi, pengaturan nuklir, pemulihan jalur Selat Hormuz, dan penataan keamanan kawasan.
Meski begitu, Israel menolak keras kompromi diplomatik tersebut. Tel Aviv menilai negosiasi tidak cukup untuk membendung ambisi militer Teheran, sehingga opsi serangan fisik tetap dianggap perlu.
Rivalitas yang belum mereda
Ketegangan Israel dan Iran tidak lahir dalam waktu singkat, melainkan tumbuh dari rivalitas geopolitik yang sudah berlangsung selama beberapa dekade di Timur Tengah. Dalam konteks itu, setiap langkah diplomatik baru sering dibaca dengan penuh kecurigaan oleh kedua pihak.
Kekhawatiran global juga meningkat karena kemajuan teknologi pengayaan uranium Iran. Perkembangan tersebut membuat banyak pihak waspada terhadap kemungkinan munculnya kekuatan nuklir baru di kawasan.
Risiko eskalasi masih terbuka
Upaya Amerika Serikat untuk meredam konflik lewat pakta kerja sama baru belum cukup mengubah posisi Israel. Penolakan Netanyahu menunjukkan bahwa ruang kompromi masih sempit dan potensi konfrontasi tetap ada.
Di saat yang sama, kesepakatan damai AS-Iran justru menambah lapisan baru dalam persaingan regional. Selama Israel melihat program nuklir Teheran sebagai ancaman langsung, ketegangan militer di kawasan kemungkinan tetap sulit turun.
Source: www.suara.com






