Pria Menunggu Di Markas PBB Manhattan, Aktivis Tibet Tewas Usai Bakar Diri Protes China

Author: Qoo Media

Seorang pria yang disebut media pengasingan Tibet sebagai aktivis Tibet meninggal pada Kamis malam setelah membakar diri di luar markas Perserikatan Bangsa-Bangsa di Manhattan. Insiden itu kembali menyorot ketegangan lama seputar Tibet, identitas budaya, dan protes politik terhadap Beijing.

Rekaman video yang beredar memperlihatkan pria itu mengenakan jubah dan memegang bendera Tibet sebelum meletakkan bendera tersebut di sebuah tiang. Setelah itu, ia terlihat menyalakan alat pembakar dan seketika dilalap api.

Petugas darurat tiba dengan alat pemadam lebih dari satu menit kemudian dan memadamkan api. Saat bantuan datang, pria itu sudah tergeletak di tanah.

Voice of Tibet, media pengasingan Tibet, mengidentifikasi pria itu sebagai aktivis Tibet Lobga Rangzen. Media tersebut menyebut ia melakukan aksi bakar diri setelah menyampaikan “seruan langsung untuk kemerdekaan dan persatuan Tibet.”

Identitas korban dan reaksi awal

Gonpo Dhundup, anggota parlemen pengasingan Tibet, mengatakan dalam pernyataan daring bahwa Rangzen melakukan “pengorbanan tertinggi melalui bakar diri untuk memprotes pendudukan China atas Tibet dan represi terhadap rakyat Tibet.” Polisi menyebut Rangzen dibawa ke Bellevue Hospital dan dinyatakan meninggal dunia, menurut laporan New York Post.

UPI mengatakan telah menghubungi New York Police Department untuk meminta komentar. Hingga kini, pihak berwenang belum memberikan keterangan rinci tambahan dalam bahan yang tersedia.

Latar belakang konflik Tibet

China menguasai Tibet sejak 1951 dan memandang wilayah itu sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayah China sejak zaman kuno. Partai Komunis China juga menganggap gerakan kemerdekaan Tibet sebagai salah satu dari apa yang disebut “Five Poisons” yang mengancam klaim teritorialnya.

International Campaign for Tibet, kelompok hak asasi berbasis di Washington, D.C., menyebut Rangzen sebagai “advokat tanpa lelah bagi Tibet” yang mengabdikan diri untuk meningkatkan kesadaran secara damai tentang krisis kemanusiaan di Tibet. Organisasi itu juga menyebut pernyataan terakhir Rangzen yang dipublikasikan di akun Facebook-nya berisi peringatan bahwa kebijakan China mengancam kelangsungan identitas, bahasa, dan budaya Tibet.

Dalam pernyataan itu, Rangzen juga menyerukan agar semua orang Tibet bersatu dalam perjuangan untuk gerakan Tibet. Organisasi tersebut menempatkan kematian itu dalam konteks panjang protes bakar diri yang telah berulang di kalangan warga Tibet.

Sorotan pada kebijakan baru Beijing

Aksi itu terjadi dua hari setelah Undang-Undang Promosi Persatuan dan Kemajuan Etnis China mulai berlaku. Beijing mengatakan aturan itu dirancang untuk mendorong kohesi di antara 56 kelompok etnis di negara itu.

Namun, para pembela hak asasi menilai kebijakan tersebut justru mendorong kelompok etnis seperti Tibet untuk mengikuti budaya Han China yang dominan. Sarah Brooks, Wakil Direktur Regional Amnesty International, mengatakan istilah “persatuan” dalam konteks itu bukan harmoni antar-komunitas, melainkan keselarasan politik dan ideologis dengan Partai Komunis China.

Brooks juga menyebut undang-undang itu berisiko memberi dasar hukum lebih kuat untuk melakukan represi lintas negara terhadap mereka yang secara damai memperjuangkan hak-hak minoritas di China. Ia menambahkan bahwa kebijakan tersebut dapat semakin melembagakan pemaksaan asimilasi terhadap Uyghur, Tibet, dan kelompok etnis non-Han lainnya.

International Campaign for Tibet menyebut 159 orang Tibet telah melakukan bakar diri di Tibet, China, dan dalam pengasingan sejak 2009. Angka itu menunjukkan bahwa aksi ekstrem semacam ini masih menjadi bentuk protes yang muncul berulang dalam konflik Tibet yang belum mereda.

Terbaru