Di bawah terik matahari La Guaira, keluarga-keluarga yang kehilangan orang terdekat harus menunggu berjam-jam di sebuah fasilitas penyimpanan pelabuhan yang diubah menjadi kamar jenazah darurat. Di tempat inilah mereka mencoba mengenali korban gempa kembar Venezuela, saat jumlah korban tewas telah melampaui 2.600 orang.
Situasinya memperlihatkan sisi paling berat dari bencana itu: bukan hanya mengevakuasi jenazah, tetapi juga mengidentifikasi mereka. Dengan infrastruktur yang rusak dan layanan lokal kewalahan, tubuh korban ditempatkan di luar ruangan atau di tenda sementara, lalu disusun berdasarkan waktu penemuan.
Pencarian yang berubah menjadi ujian baru
Di Los Silos, suasana dipenuhi keheningan dan kepanikan yang tertahan. Kursi-kursi disusun di dalam dan luar area, sementara personel bersenjata dari Angkatan Bersenjata Bolivarian menjaga akses ke lokasi.
Banyak keluarga datang setelah berhari-hari mencari rumah sakit, tempat penampungan, dan reruntuhan. Mereka berdiri atau duduk tanpa banyak bicara, sebagian menatap kosong, sebagian lain memeriksa ponsel untuk membaca kabar atau membalas pesan.
Di dalam area itu, bau pembusukan langsung menyambut siapa pun yang masuk. Banyak anggota keluarga menutup mulut dengan tangan atau memakai masker kain, tetapi perlindungan itu hanya sedikit membantu di tengah panas yang menyengat.
Identifikasi lewat layar dan barang kecil
Di salah satu ujung lokasi, petugas menawarkan layanan kremasi gratis. Di ujung lain, spesialis forensik memakai catatan gigi untuk membantu mengenali korban yang tubuhnya sudah sulit dikenali.
Sebagian keluarga dibawa ke area terpisah jika mereka merasa masih bisa mengenali orang terkasih dari pakaian. Sebagian besar lainnya diarahkan ke dua layar televisi, tempat lebih dari 1.000 gambar jenazah diputar tanpa henti.
Banyak tubuh tampak membengkak, kulit menggelap, atau memperlihatkan bekas luka dan cedera. Karena itu, keluarga mencari petunjuk sekecil apa pun, seperti tato, gelang, potongan pakaian, atau barang dari rumah.
Petugas yang menggulir foto di iPad sesekali memperbesar gambar gigi, tato, atau bekas luka. Dalam beberapa momen, harapan muncul sebentar sebelum berubah lagi menjadi tangis dan keputusasaan.
Duka yang berulang di depan layar
Seorang perempuan menangis saat mengenali putranya dari selimut berdebu. Seorang perempuan asing lalu memeluknya, sementara suasana di sekitar tetap sunyi.
Telepon yang berdering sesekali memecah keheningan. Seorang pria muda berbisik di telepon bahwa ia sedang mencoba mengidentifikasi ibunya, tetapi kondisi jenazah membuat proses itu sangat sulit.
Liliana González, 60 tahun, warga Catia La Mar, mengatakan pengalamannya seperti mimpi buruk. Ia datang untuk mencari bibinya, tetapi akhirnya mengenali keponakannya yang berusia 37 tahun lewat tato.
Ia mengaku nama keponakannya tidak ada dalam daftar, sehingga ia harus melihat gambar-gambar jenazah satu per satu. Menurut Liliana, ia juga teringat pada kematian ibunya sendiri, tetapi kali ini rasanya berbeda.
Menunggu giliran untuk kehilangan
Modesta Alemán, 56 tahun, datang dari Carayaca di barat La Guaira untuk mencari kakak perempuannya, Matilde. Sang kakak tinggal di Playa Grande, salah satu wilayah yang paling parah terdampak.
Ia mengatakan tidak ada yang selamat dari bangunan itu, meski para relawan kemudian mendengar suara orang memanggil dari dalam. Namun, tidak ada yang bisa menarik mereka keluar.
Modesta memilih menunggu di luar kamar jenazah darurat saat anggota keluarga lain menjalani proses identifikasi. Setelah satu jenazah dikenali, proses selanjutnya tetap panjang karena sidik jari diambil bila memungkinkan, lalu jenazah ditempatkan di peti mati dan dokumen surat kematian mulai diproses.
Jéssica Soto, 42 tahun, juga menunggu di pintu masuk Los Silos. Ia menunggu jasad putrinya yang berusia 15 tahun dan cucu perempuannya yang berusia tiga tahun, yang terjebak di apartemen setelah gempa.
Jenazah keduanya baru ditemukan pada Selasa, hampir sepekan kemudian. Jéssica mengatakan dirinya terus menunggu urusan dokumen, truk pengangkut, dan berbagai proses lain, sambil melihat peti mati dibiarkan di bawah matahari sejak hari sebelumnya.
Di tengah rasa takut dan lelah, banyak keluarga hanya bisa bertahan sambil berharap pada satu kepastian yang paling menyakitkan: nama orang yang mereka cari benar-benar ada di antara deretan jenazah di Los Silos. Bagi sebagian dari mereka, proses itu masih harus diulang lagi dalam hari-hari berikutnya karena sebagian korban masih tertimbun reruntuhan.
