Komandan Khatam al-Anbiya, Ali Abdollahi, mengeluarkan peringatan keras kepada Israel dan Amerika Serikat agar tidak melakukan langkah yang dianggap keliru selama rangkaian pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Ia menegaskan Iran akan bereaksi keras jika ada serangan atau gangguan di tengah prosesi yang dijadwalkan berlangsung hingga Kamis (9/7/2026), mengutip laporan The Jerusalem Post pada Jumat (3/7/2026).
Peringatan itu muncul saat Iran bersiap menggelar upacara yang disebut-sebut sebagai salah satu prosesi pemakaman terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran. Rangkaian penghormatan untuk Khamenei akan berlangsung di sejumlah kota besar, termasuk Teheran, Qom, Mashhad, Najaf, dan Karbala.
Ancaman balasan dari Iran
Ali Abdollahi menyampaikan peringatan tersebut pada Jumat (3/7/2026) menjelang dimulainya prosesi. Khatam al-Anbiya sendiri merupakan komando gabungan militer Iran yang bertugas mengoordinasikan operasi seluruh angkatan bersenjata negara itu.
Sikap keras Iran ini memperlihatkan tingkat kewaspadaan tinggi di tengah situasi keamanan yang masih sensitif. Otoritas Iran tampak ingin memastikan prosesi berjalan tanpa gangguan, terutama setelah konflik dengan AS dan Israel memanas dalam beberapa waktu terakhir.
Media pemerintah Iran melaporkan jutaan warga diperkirakan akan ikut dalam rangkaian pemakaman. Wali kota Teheran bahkan memperkirakan jumlah pelayat di ibu kota dapat mencapai 15 juta hingga 20 juta orang.
Prosesi yang ditunda karena perang
Upacara pemakaman itu sebenarnya sudah dijadwalkan beberapa bulan lalu. Namun, rencana tersebut tertunda karena situasi perang antara AS-Israel dan Iran yang membuat pelaksanaan prosesi harus menunggu kondisi yang lebih memungkinkan.
Skala acara juga menunjukkan betapa besar pengaruh politik dan simbolik keluarga Khamenei dalam struktur kekuasaan Iran. Media pemerintah menyebut rangkaian penghormatan akan menjadi perhatian publik luas, bukan hanya di dalam negeri tetapi juga di kota-kota suci di Irak.
Dalam tayangan yang diunggah oleh Islamic Republic of Iran Broadcasting atau IRIB pada Kamis (2/7/2026) malam, peti jenazah Khamenei ditampilkan untuk pertama kalinya. Rekaman itu memperlihatkan ribuan warga memadati lokasi acara sambil meneriakkan seruan di depan panggung yang dipenuhi bunga.
Peti jenazah Khamenei diletakkan di tengah panggung sebagai pusat penghormatan terakhir. Hadir pula sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Komandan Korps Garda Revolusi Islam, Ahmad Vahidi, yang untuk pertama kalinya muncul di depan publik sejak pecahnya perang AS-Israel terhadap Iran.
Latar serangan yang menewaskan Khamenei
Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan gabungan AS dan Israel di Teheran pada Sabtu (28/2/2026) saat dimulainya operasi militer Roaring Lion dan Epic Fury. Dalam serangan itu, putrinya, cucunya, menantu perempuan, dan menantu laki-lakinya juga dilaporkan turut tewas.
Sejak kematian Khamenei, Mojtaba Khamenei disebut mengambil alih posisi sebagai pemimpin tertinggi Iran. Situasi ini membuat prosesi pemakaman tidak hanya menjadi acara duka, tetapi juga momen politik yang sangat sensitif bagi Iran.
Di tengah persiapan besar-besaran itu, peringatan Abdollahi menunjukkan bahwa Teheran ingin mengirim sinyal tegas kepada lawan-lawannya. Iran menilai setiap gangguan selama prosesi akan dibalas secara keras, sementara jutaan pelayat diperkirakan tetap memadati jalur penghormatan di berbagai kota yang telah disiapkan.
Source: www.beritasatu.com






