Intelijen Israel Peringatkan AS, Dugaan Rencana Iran Bunuh Donald Trump Makin Serius

Intelijen Israel dilaporkan menyampaikan peringatan baru kepada Amerika Serikat soal dugaan rencana Iran untuk membunuh Donald Trump. Informasi itu muncul di tengah ketegangan yang kembali naik setelah serangan terbaru AS ke wilayah Iran.

Laporan ini membuat pengamanan terhadap Trump kembali menjadi sorotan, terutama karena sejumlah sumber menyebut ancaman yang diteruskan kali ini lebih spesifik. CNN pada Jumat (10/7) melaporkan bahwa Trump memang rutin menerima pembaruan intelijen soal potensi ancaman terhadap dirinya.

Plot Baru yang Dianggap Lebih Mengkhawatirkan

Masih menurut CNN, peringatan dari pihak Israel dinilai lebih mengkhawatirkan karena memuat rencana yang lebih rinci. The Wall Street Journal juga mengutip sumber anonim yang menyebut intelijen Israel menggambarkan adanya plot baru untuk membunuh Presiden Amerika Serikat tersebut.

Belum ada rincian publik mengenai bagaimana dugaan rencana itu disusun, tetapi informasi tersebut memperkuat kekhawatiran soal keselamatan Trump. Situasi ini juga menambah tekanan pada hubungan Washington dan Teheran yang sudah lama tegang.

Dendam Teheran yang Belum Padam

Iran selama bertahun-tahun secara terbuka menyatakan niat untuk membalas kebijakan Trump. Akar persoalannya merujuk pada operasi militer yang diperintahkan Trump dan menewaskan Jenderal Qassem Soleimani pada Januari 2020, saat ia masih menjabat pada periode pertama kepresidenannya.

Ketegangan itu kemudian makin memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu. Operasi tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah pejabat tinggi Iran lain, yang memicu ancaman balasan lebih lanjut dari Teheran.

PeristiwaKeteranganDampak
Operasi terhadap Qassem SoleimaniTerjadi pada Januari 2020Menjadi dasar dendam Iran kepada Trump
Serangan AS-Israel ke IranTerjadi pada 28 Februari laluMemicu ancaman balasan dari Teheran

Perubahan Pengamanan Trump

Isu ancaman itu ikut menguat setelah kepulangan Trump dari KTT NATO di Ankara, Turki. Dalam perjalanan ke Washington, ia tidak memakai pesawat kepresidenan Air Force One baru yang merupakan hadiah dari Qatar.

Trump justru kembali menggunakan Air Force One lama, sementara pesawat baru itu diterbangkan lebih dulu ke Inggris sebelum dipakai lagi pada perjalanan berikutnya. Keputusan ini memunculkan spekulasi bahwa sistem keamanan pada pesawat baru belum sepenuhnya siap menghadapi potensi ancaman.

Sejumlah sumber internal menyebut pergantian pesawat dilakukan atas rekomendasi ketat dari US Secret Service demi alasan keamanan presiden. Langkah itu menunjukkan bahwa pengamanan terhadap Trump tetap berada dalam status siaga tinggi di tengah memanasnya hubungan AS dan Iran.

Respons Trump

Trump sendiri mengakui bahwa dirinya menjadi sasaran utama. Dalam pernyataannya, ia mengatakan, “Mereka ingin membunuh pemimpin Amerika Serikat. Nama saya ada di daftar mereka. Pagi ini saya melihat bahwa saya ada di setiap daftar yang mereka miliki.”

Dalam konferensi pers terbarunya, Trump tidak menjelaskan detail teknis soal pengamanan dirinya. Namun ia kembali menegaskan bahwa ancaman pembunuhan itu memiliki kaitan erat dengan Iran.

Source: mediaindonesia.com
Terkait