Ledakan Besar di Bandar Abbas dan Qeshm, Ketegangan AS-Iran Makin Sulit Dibaca

Author: Qoo Media

Ledakan besar terdengar di Pelabuhan Bandar Abbas dan Pulau Qeshm dekat Selat Hormuz pada Senin siang waktu setempat, di tengah hubungan Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas. Insiden ini muncul saat proses negosiasi kedua pihak disebut makin suram pekan ini.

Di antara dua lokasi itu, ledakan lebih banyak terdengar di Pulau Qeshm yang dikenal sebagai salah satu basis pertahanan dan pusat kontrol Iran di dekat Selat Hormuz. Tidak ada korban sipil atau kerusakan pada infrastruktur perumahan dan komersial yang dilaporkan.

Serangan di Titik Sensitif Selat Hormuz

Serangan itu diduga kuat kembali dilancarkan AS ke dekat Selat Hormuz untuk melemahkan kemampuan serangan rudal dan drone Teheran. Menurut kantor berita Iran, Mehr, “Selama beberapa malam terakhir, pasukan teroris Amerika telah melakukan serangan di garis pantai selatan Iran, yang mengakibatkan gugurnya sejumlah nelayan dan pembela tanah air.”

Laporan itu menempatkan rangkaian serangan sebagai bagian dari ketegangan yang belum mereda. Namun, sejauh ini dampaknya masih disebut terbatas dan belum meluas ke kerusakan sipil di kawasan permukiman maupun komersial.

Masih Terbatas, Tapi Punya Potensi Naik

Analis perang dan konflik kawasan dari Universitas Georgetown, Watar Paul Musgrave, menilai serangan sistematis AS dan Iran sejauh ini masih “relatif terbatas”. Ia mengatakan selalu ada ruang untuk bernegosiasi, tetapi negara-negara kadang justru bernegosiasi melalui saling tukar serangan.

Musgrave juga menyoroti bahwa kedua pihak tampak semakin memahami tujuan utama mereka. Bagi Washington, itu berarti Selat Hormuz dan program nuklir Iran, sementara bagi Iran perang AS-Israel telah memberi mereka tujuan yang lebih ambisius di kawasan.

Ia mencontohkan serangan Iran terhadap pangkalan militer AS dan program minyak lepas pantai Kuwait sebagai bukti bahwa situasi masih dapat berkembang lebih jauh. “Itu masih relatif terbatas. Kita tidak berbicara tentang serangan skala besar, tetapi itu adalah sesuatu yang berpotensi meningkat lebih jauh,” kata Musgrave dikutip dari Al Jazeera.

Di tengah saling serang yang belum berhenti, arah negosiasi juga ikut berada dalam sorotan. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali menunjukkan betapa cepatnya konflik kawasan bisa bergerak dari pembicaraan diplomatik ke aksi militer yang lebih nyata.

Source: www.cnnindonesia.com
Terbaru