Ketegangan di Timur Tengah kembali naik setelah Iran mengancam akan menutup jalur ekspor energi lain yang dinilai menguntungkan Amerika Serikat dan sekutunya. Ancaman itu muncul di saat Selat Hormuz sudah ditutup dan AS kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyebut distribusi energi di kawasan tidak akan berjalan normal jika tekanan dari AS terus berlanjut. Dalam pernyataan yang dikutip IRNA dan disitat Business Recorder, IRGC mengatakan, “Ekspor energi regional ditanggung bersama oleh semua orang, atau ditolak oleh semua pihak.”
Kekhawatiran pasar kini tidak hanya tertuju pada Selat Hormuz. Sejumlah analis menilai Iran juga bisa memanfaatkan kelompok sekutunya untuk mengganggu jalur pelayaran strategis lain yang sama vitalnya bagi pasokan energi global.
Bab el-Mandeb Masuk Radar
Nama Selat Bab el-Mandeb kembali mencuat karena dianggap menjadi jalur yang bisa ditekan Iran melalui Houthi di Yaman. Selat ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi lintasan penting ekspor minyak Arab Saudi serta perdagangan internasional.
Ancaman itu diperkuat oleh pernyataan seorang pejabat senior Houthi pada Senin (13/7/2026). Dalam laporan Press TV Iran, pejabat tersebut menyebut kelompoknya siap menutup Bab el-Mandeb jika Arab Saudi terus melancarkan serangan ke wilayah Yaman.
Menurut pejabat itu, penutupan jalur tersebut dapat mendorong harga minyak dunia melonjak hingga US$ 200 per barel. Kelompok Houthi sebelumnya juga pernah mengganggu perdagangan global melalui Laut Merah setelah perang Gaza pecah pada Oktober 2023.
| Jalur Strategis | Fungsi Utama | Ancaman yang Disorot |
|---|---|---|
| Selat Hormuz | Lintasan vital minyak dan gas dunia | Ditutup Iran dan jadi sasaran serangan AS |
| Selat Bab el-Mandeb | Penghubung Laut Merah dan Teluk Aden | Berpotensi ditekan lewat Houthi di Yaman |
Serangan AS dan Balasan Iran
Di saat ketegangan meningkat, militer AS mengumumkan gelombang serangan baru untuk melemahkan kemampuan Iran yang digunakan menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. AS menyatakan Iran telah menyerang tujuh kapal dagang dalam sepekan terakhir, dengan hampir belasan awak kapal tewas, hilang, atau terluka.
Komando Pusat Amerika Serikat atau Centcom juga mengonfirmasi serangan terhadap puluhan sasaran militer di sekitar Selat Hormuz dan wilayah pesisir Iran pada Selasa malam. Operasi itu berlangsung sekitar tujuh jam dan menyasar sejumlah fasilitas militer Iran.
IRGC kemudian menegaskan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga apa yang mereka sebut sebagai akhir dari kejahatan Amerika. Sebelum konflik pecah pada akhir Februari, sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia setiap hari memang melewati selat tersebut.
IRGC juga mengklaim telah menyerang fasilitas komando, pusat kendali, logistik, penyimpanan bahan bakar, serta perlengkapan militer armada kelima AS di Bahrain. Mereka menyebut fasilitas logistik AS di Mina Abdullah, Kuwait, ikut dihantam, dan pangkalan militer Amerika di Azraq, Yordania, juga menjadi sasaran.
Kantor berita resmi Kuwait melaporkan kebakaran di lokasi yang menjadi sasaran serangan Iran berhasil dikendalikan. Namun, belum dapat dipastikan apakah lokasi itu sama dengan yang disebut IRGC dalam pernyataannya.
Di Yordania, sistem pertahanan udara dilaporkan berhasil mencegat dan menembak jatuh tiga rudal balistik yang memasuki wilayah udara negara itu dari arah Iran pada Rabu pagi. Kementerian Luar Negeri India juga melaporkan seorang warga negaranya hilang setelah serangan terhadap sebuah kapal di lepas pantai Oman.
Harga Minyak Ikut Terangkat
Gejolak di sekitar dua jalur pelayaran itu ikut mendorong harga minyak dunia naik. Pada perdagangan terbaru, minyak mentah Brent mencatat penutupan tertinggi sejak 12 Juni, sementara West Texas Intermediate atau WTI berada di level tertinggi sejak 15 Juni.
Kedua kontrak kembali menguat pada awal perdagangan Rabu setelah sehari sebelumnya ditutup naik sekitar 2 persen. Pasar menilai ancaman terhadap pasokan energi global masih jauh dari reda, terutama ketika Selat Hormuz tetap ditutup dan Bab el-Mandeb ikut berada dalam bayang-bayang eskalasi.
Situasi ini memburuk setelah permusuhan Iran dan AS kembali meningkat pada pekan lalu, mematahkan gencatan senjata yang sebelumnya dicapai pada Juni setelah berbulan-bulan pertempuran. Di tengah tekanan itu, Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika Teheran tidak segera kembali ke meja perundingan.
Trump juga mengatakan para negosiator AS telah menghubungi pejabat Iran dan menyampaikan pesan agar Teheran segera mencapai kesepakatan. Ia sempat mengusulkan biaya 20 persen bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz, tetapi sehari kemudian membatalkan rencana itu dan memilih mendorong kesepakatan investasi dengan negara-negara Teluk.
Ancaman terhadap dua jalur laut penting ini membuat pasar energi global tetap siaga. Selama penutupan Hormuz bertahan dan Bab el-Mandeb terus menjadi kartu tekanan, risiko gangguan pasokan minyak masih akan membayangi perdagangan dunia.
Source: www.beritasatu.com






