Argentina melangkah ke final Piala Dunia 2026 dengan cara yang jauh dari mulus. Sang juara dunia harus melewati rangkaian laga knockout yang penuh tekanan, comeback, dan perpanjangan waktu sebelum akhirnya mengunci tiket ke partai puncak.
Perjalanan ini membuat langkah Lionel Messi dan kawan-kawan terasa seperti ujian ketahanan, bukan sekadar rangkaian kemenangan. Dari fase gugur, Argentina berkali-kali dipaksa bekerja sampai detik-detik akhir untuk mempertahankan ambisi mempertahankan gelar.
Awal yang sempurna, lalu mulai goyah
Setelah menuntaskan fase grup dengan tiga kemenangan, Argentina justru kehilangan kelancaran saat memasuki babak knockout. Di tahap inilah mereka berulang kali menghadapi lawan yang membuat permainan Albiceleste tidak nyaman.
Masalah itu mulai terlihat saat melawan Cape Verde di babak 32 besar. Argentina dua kali tertinggal dan dua kali pula disamakan, sebelum gol bunuh diri Edilson Alberto pada menit ke-111 menjadi pembeda laga.
| Babak | Lawan | Situasi Kunci | Hasil |
|---|---|---|---|
| 32 besar | Cape Verde | Dua kali tertinggal, dua kali disamakan, lalu ditentukan gol bunuh diri pada menit ke-111 | Argentina menang |
| 16 besar | Mesir | Tertinggal 0-2 hingga menit ke-78, lalu membalikkan keadaan di akhir laga | Argentina menang 3-2 |
| Perempat final | Swiss | Skor 1-1 hingga waktu normal selesai dan berlanjut ke extra time | Argentina menang lewat dua gol di extra time |
| Semifinal | Inggris | Tertinggal lebih dulu sebelum mencetak dua gol di menit-menit akhir | Argentina lolos ke final |
Empat laga, empat ujian berbeda
Di babak 16 besar, Argentina kembali menunjukkan karakter dramatis. Mereka tertinggal 0-2 dari Mesir hingga menit ke-78, lalu memangkas jarak, menyamakan skor, dan berbalik unggul menjadi 3-2.
CNN Indonesia mencatat, laga itu juga diwarnai bumbu kontroversial, tetapi hasil akhirnya tetap sama: Argentina keluar sebagai pemenang. Kemenangan tersebut menjadi bukti bahwa mereka masih punya daya tahan untuk bertahan dalam situasi paling sulit.
Ujian berikutnya datang di perempat final saat menghadapi Swiss. Pertandingan berakhir imbang 1-1 di waktu normal, meski Swiss bermain dengan 10 pemain pada 20 menit terakhir, sehingga laga harus dilanjutkan ke babak tambahan.
Dua gol Argentina di extra time memastikan langkah mereka ke semifinal. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama karena drama kembali muncul di partai yang menentukan tiket final.
Menang saat tekanan mencapai puncak
Melawan Inggris, Argentina kembali dibuat tertinggal lebih dulu. Situasi berubah di menit-menit akhir ketika dua gol lahir dan menutup laga dengan kepastian satu tempat di final.
Hasil itu menegaskan bahwa Argentina tidak selalu tampil dominan, tetapi tetap menemukan cara untuk menang. Di turnamen sebesar Piala Dunia 2026, kemampuan bertahan dalam tekanan seperti inilah yang menjaga mereka tetap hidup sampai partai puncak.
Final kini hanya tinggal satu langkah lagi bagi Messi dan rekan-rekannya. Bagi Argentina, perjalanan menuju partai pemungkas justru menjadi cerita tentang bagaimana sebuah tim besar bisa sampai ke tujuan dengan kerja keras, bukan dengan jalan yang tenang.
Source: www.cnnindonesia.com






