Efisiensi Anggaran TI Jadi Kunci, Perusahaan Didorong Alihkan Biaya Operasional ke AI

Efisiensi anggaran teknologi informasi mulai menjadi penentu utama cepat atau lambatnya perusahaan mengadopsi AI. Banyak organisasi masih menghabiskan sebagian besar dana TI untuk menjaga sistem lama tetap berjalan, sehingga ruang untuk inovasi menjadi sangat terbatas.

CEO Rimini Street Seth Ravin menilai masalah terbesar perusahaan bukan kekurangan anggaran, melainkan cara membaginya. Ia menyebut banyak organisasi masih menempatkan sekitar 90% belanja TI untuk operasional, sementara kurang dari 10% tersisa untuk inovasi.

Biaya Operasional Masih Mendominasi

Di tengah tekanan ekonomi global, perusahaan kembali meninjau cara mereka membelanjakan anggaran teknologi. Menurut Seth dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Rabu (15/7/2026), fokus perusahaan semestinya bergeser ke upaya mencari cara agar inovasi bisa dibiayai dengan lebih efisien.

Ia menilai kebutuhan investasi AI justru makin besar, tetapi banyak perusahaan tidak ingin menaikkan total belanja teknologi. Karena itu, efisiensi dari anggaran yang sudah ada menjadi jalan yang paling realistis agar transformasi tetap berjalan.

ERP Lama Masih Punya Nilai

Seth juga menegaskan perusahaan tidak harus mengganti seluruh sistem Enterprise Resource Planning atau ERP untuk mendukung transformasi digital. Platform ERP yang telah dipakai bertahun-tahun masih dapat memberi nilai jika dikelola secara optimal.

Alih-alih melakukan penggantian sistem menyeluruh, perusahaan dapat memperpanjang umur investasi ERP sambil menambahkan kemampuan baru seperti otomatisasi, analitik data, dan AI di atas platform yang sudah ada. Pendekatan ini dinilai lebih hemat sekaligus mengurangi risiko gangguan operasional.

Fokus LangkahManfaat yang DiharapkanDampak Utama
Optimalisasi ERPMenjaga investasi yang sudah ada tetap bernilaiBiaya transformasi lebih rendah
Tambah otomatisasi, analitik data, dan AIMemperluas kemampuan tanpa ganti sistem intiRisiko gangguan operasional lebih kecil
Transformasi bertahapEfisiensi dipakai kembali untuk inovasi berikutnyaAI bisa didanai dari penghematan internal

AI Butuh Fondasi yang Sudah Efisien

Menurut Seth, AI akan memberi manfaat maksimal jika diterapkan pada proses bisnis yang sudah terdigitalisasi dan berjalan efisien. Dalam model itu, ERP tetap menjadi pusat data dan proses bisnis, sedangkan AI berperan sebagai lapisan inovasi untuk mempercepat analitik, otomatisasi, dan pengambilan keputusan.

Ia menyarankan perusahaan memulai transformasi secara bertahap, dimulai dari optimalisasi proses bisnis, kemudian otomatisasi, lalu integrasi AI pada area yang memberi dampak bisnis paling besar. Efisiensi yang muncul dari tiap tahap dapat digunakan kembali untuk membiayai langkah berikutnya.

Tren Bergeser di Asia Tenggara dan Indonesia

Rimini Street melihat tren di Asia Tenggara mulai bergeser dari proyek transformasi berskala besar menuju optimalisasi aset teknologi yang sudah dimiliki. Penghematan dari langkah itu kemudian dialokasikan untuk investasi AI, keamanan siber, dan inovasi digital lain.

Gejala serupa juga mulai terlihat di Indonesia. Di tengah dorongan transformasi digital, perusahaan disebut semakin berhati-hati agar setiap investasi TI benar-benar menghasilkan nilai bisnis yang terukur melalui efisiensi operasional dan penggunaan anggaran yang lebih produktif.

Perubahan cara belanja TI ini menunjukkan bahwa percepatan adopsi AI tidak selalu bergantung pada penambahan dana baru. Bagi banyak perusahaan, kuncinya justru ada pada kemampuan memangkas beban operasional dan mengalihkan ruang anggaran yang tersisa ke inovasi yang paling berdampak.

Source: teknologi.bisnis.com
Terkait