Gencatan Senjata AS-Iran Runtuh dalam Sepekan, Selat Hormuz Kini Lumpuh

Author: Qoo Media

Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran runtuh hanya sekitar sepekan setelah kedua pihak menyepakati periode negosiasi selama 60 hari. Eskalasi baru ini dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 38 orang dan melukai lebih dari 400 lainnya.

Dampak paling besar langsung terasa di Selat Hormuz, jalur maritim internasional yang membelah wilayah Iran dan Oman. Aktivitas pelayaran di kawasan tersebut dilaporkan lumpuh total ketika aksi saling serang kembali meluas.

Menurut www.suara.com, rangkaian serangan militer Amerika Serikat setelah pertemuan tingkat tinggi di Swiss menjadi pemicu runtuhnya komitmen damai itu. Pertemuan pada 22 Juni sebelumnya diproyeksikan membuka ruang perundingan selama 60 hari penuh.

Namun, ketegangan tidak mereda setelah pembicaraan tersebut. Jalur Selat Hormuz justru menjadi salah satu titik yang mempercepat pecahnya kembali konflik bersenjata.

Konflik Meluas ke Negara Tetangga

Serangan dan respons militer kini tidak hanya berpusat pada wilayah Iran dan Amerika Serikat. Bahrain, Qatar, Kuwait, Suriah, serta Oman ikut disebut terdampak dalam perluasan front konflik regional.

Angkatan bersenjata Iran mengklaim telah menggempur helikopter dan pesawat pengintai milik militer Amerika Serikat. Salah satu sasaran yang disebut adalah pangkalan udara Sakhir di Bahrain.

Kementerian Dalam Negeri Qatar melaporkan seorang anak terluka akibat serpihan peluru dari pecahan rudal. Insiden itu terjadi saat sistem pertahanan udara Qatar mencegat sejumlah serangan udara dari Iran.

Di Kuwait, militer Iran dilaporkan melancarkan serangan drone ke pusat logistik dan pangkalan penempatan pasukan Amerika Serikat. Operasi tersebut disebut membidik infrastruktur pertahanan sekutu di wilayah Kuwait.

Wilayah Sasaran atau Peristiwa Keterangan
Bahrain Pangkalan udara Sakhir Disebut menjadi sasaran serangan Iran
Qatar Pencegatan serangan udara Seorang anak dilaporkan terluka oleh serpihan rudal
Kuwait Pusat logistik dan pangkalan pasukan AS Dilaporkan disasar dalam serangan drone
Suriah Pangkalan al-Tanf IRGC mengklaim pusat komando operasi khusus AS dihancurkan

Klaim Serangan terhadap Fasilitas AS

Korps Pengawal Revolusi Islam Iran atau IRGC mengonfirmasi klaim penghancuran radar sistem pertahanan udara Amerika Serikat. Kelompok itu juga menyatakan depot senjata utama serta dua peluncur rudal taktis HIMARS telah dihancurkan.

IRGC turut mengklaim menghancurkan pusat komando operasi khusus militer Amerika Serikat di pangkalan al-Tanf, Suriah. Fasilitas strategis tersebut dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah.

Di Oman, instalasi pemantau pergerakan udara regional juga disebut menjadi sasaran. Radar kontrol udara Amerika Serikat di Ghanim, Oman, diklaim hancur akibat serangan tersebut.

Komando pertahanan pantai Oman dilaporkan ikut terdampak penghancuran fasilitas radar kontrol maritim internasional. Serangkaian klaim ini menggambarkan meluasnya sasaran dari pangkalan udara hingga infrastruktur pemantauan.

Selat Hormuz Menjadi Titik Kritis

Selat Hormuz kembali menjadi titik paling sensitif dalam perkembangan konflik ini. Kawasan tersebut merupakan jalur yang memisahkan Iran dan Oman serta menjadi lintasan pelayaran internasional.

Al Jazeera, yang dikutip dalam laporan tersebut, menyebut krisis regional semakin meruncing seiring penutupan total jalur maritim di Selat Hormuz. Kelumpuhan jalur ini muncul di tengah aksi saling balas jet tempur dan artileri berat di sejumlah titik strategis Timur Tengah.

Runtuhnya gencatan senjata dalam waktu singkat memperlihatkan rapuhnya jalur diplomasi yang baru saja dibuka. Periode negosiasi 60 hari yang semula diharapkan meredakan ketegangan kini terhenti oleh serangan lintas wilayah.

Dengan sejumlah negara tetangga ikut terdampak, konflik tidak lagi terbatas pada dua pihak utama. Penutupan Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas militer regional menandai eskalasi yang jauh lebih luas.

Source: www.suara.com
Terbaru