Negara Iran tengah menghadapi situasi yang semakin tegang pasca serangan udara Israel terhadap wilayahnya. Dalam konteks konflik ini, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan negara-negara Muslim untuk bersatu menghadapi agresi rezim Israel, yang menurutnya dikenal dengan “kejahatan dan pertumpahan darah.” Serangan terbaru Israel dianggap sebagai upaya untuk menggagalkan perundingan nuklir yang sedang berlangsung antara Teheran dan Washington.
Dalam percakapan telepon dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Pezeshkian menekankan pentingnya solidaritas di antara negara-negara Muslim. “Mereka membunuh warga sipil, ilmuwan, dan pejabat militer kapan pun ada kesempatan,” ungkapnya, menyoroti tindakan Israel yang dianggap tidak menghargai hak asasi manusia dan hukum internasional. Serangan yang terjadi pada Jumat (13/6) menyasar fasilitas militer dan nuklir Iran, dan direspon dengan cepat oleh Teheran.
Pezeshkian mengklaim serangan tersebut merupakan bagian dari upaya Israel untuk memperlemah posisi Iran dalam negosiasi nuklir. “Republik Islam Iran selalu mengedepankan perdamaian dan dialog,”ujarnya, yang sekaligus mengekspresikan keinginan untuk memperkuat hubungan dengan negara tetangga dan negara-negara Muslim lainnya. Dia juga menyerukan peningkatan kemampuan pertahanan di antara negara Islam untuk menjaga keamanan kawasan.
Presiden Erdogan, dalam tanggapannya, mengecam keras tindakan Israel dan menyampaikan belasungkawa kepada warga Iran yang menjadi korban. Erdogan menilai bahwa serangan ini bertujuan untuk mengalihkan perhatian dari kejahatan Israel di Gaza dan membangun kekacauan di kawasan. Kepala negara Turki ini menegaskan kembali dukungan terhadap penyelesaian isu nuklir Iran secara diplomatik.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Iran tidak memiliki pilihan lainnya selain merespons agresi Israel. Ia juga menambahkan bahwa pihaknya siap menghentikan serangan jika Israel melakukan hal yang sama. “Pertahanan kami sepenuhnya sah dan akan dilakukan dengan kekuatan,” tegasnya, serta menjelaskan bahwa politik Iran diwarnai oleh situasi yang “dipaksakan.”
Ketegangan antara kedua negara meningkat setelah serangan udara yang menyasar sejumlah lokasi di Teheran. Iran merespons dengan meluncurkan gelombang kedua operasi yang menargetkan fasilitas ekonomi dan industri di Israel. Pada hari pertama serangan, Iran melaporkan sebanyak 78 orang tewas akibat serangan Israel, dengan puluhan lainnya mengalami nasib serupa pada hari berikutnya.
Konflik ini juga berdampak pada jalannya negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika Serikat, yang kini terhenti karena ketidakpastian akibat serangan. Araghchi menunjukkan bahwa agresi ini tidak mungkin terjadi tanpa koordinasi dengan Amerika Serikat, dan mengklaim bahwa ada bukti kuat keterlibatan militer AS dalam serangan tersebut.
Sementara itu, sikap Iran terhadap kehadiran AS di kawasan mencerminkan ketegangan yang ada. Araghchi menyebut bahwa Israel berulang kali menyabotase negosiasi nuklir. Meskipun menghadapi berbagai provokasi, Iran tetap melanjutkan negosiasi dengan itikad baik dan bahkan telah melakukan beberapa putaran pembicaraan dengan upaya menjembatani perbedaan.
Dalam konteks ini, serangan terbaru Israel dianggap sebagai pelanggaran hukum internasional yang serius. Iran telah meminta Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk melakukan sidang luar biasa terkait insiden ini. Menurut pejabat Iran, tindakan Israel telah melewati garis merah dalam hukum internasional yang sudah dilanggar secara terang-terangan.
Ketegangan yang berlangsung antara Iran dan Israel menunjukkan betapa rentannya stabilitas di kawasan Timur Tengah dan mencerminkan tantangan besar yang harus dihadapi oleh negara-negara Muslim dalam memperkuat solidaritas dan kerjasama guna menghadapi agresi luar.







