Lebih dari 50 Warga Gaza Tewas Ditembak Saat Distribusi Bantuan Kemanusiaan

Shopee Flash Sale

Lebih dari 50 warga Palestina tewas dan ratusan lainnya terluka akibat penembakan oleh pasukan Israel di dekat lokasi distribusi bantuan di Khan Younis, Gaza, pada Selasa (17/6). Insiden ini dianggap sebagai salah satu yang paling mematikan dalam rangkaian penembakan yang terjadi di sekitar titik-titik bantuan kemanusiaan.

Peristiwa tragis ini terjadi ketika ribuan warga berkumpul untuk mendapatkan bantuan makanan berupa tepung dari World Food Programme (WFP) dan dapur umum. Menurut laporan dari badan pertahanan sipil yang dikelola Hamas, serangan dimulai dengan dua tembakan rudal dari drone, yang diikuti oleh tembakan artileri dari tank Israel yang berjarak sekitar 400-500 meter dari kerumunan. Ledakan tersebut langsung menciptakan suasana panik, menyebabkan puluhan korban jiwa di lokasi. Saksi mata melaporkan adanya sedikitnya 51 orang yang tewas dan lebih dari 200 lainnya mengalami luka-luka.

Rumah Sakit Hadapi Krisis

Meningkatnya jumlah korban membuat Rumah Sakit Nasser di wilayah tersebut kewalahan. Fasilitas medis utama ini bahkan tidak mampu menampung semua pasien, sehingga banyak korban luka terpaksa dirawat di lantai rumah sakit. Para petugas medis sebelumnya telah memberikan peringatan mengenai kondisi rumah sakit yang nyaris lumpuh, disebabkan oleh kekurangan suplai medis dan lonjakan jumlah korban harian.

Respons Militer dan Komunitas Internasional

Militer Israel (IDF) menyatakan bahwa insiden tersebut terjadi di dekat truk bantuan yang mogok di area operasi militer mereka, dan mengklaim sedang menyelidiki laporan mengenai korban sipil. Mereka memberikan keterangan adanya "kerumunan mencurigakan" di sekitar pasukan mereka, tetapi tidak memberikan detail lebih lanjut.

Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut peristiwa ini sebagai insiden korban massal, dengan catatan bahwa sebagian besar luka dalam beberapa hari terakhir disebabkan oleh tembakan senjata api. WHO juga mencatat adanya keterkaitan yang kuat antara lokasi distribusi bantuan dan terjadinya penembakan.

Tuduhan Terhadap Israel dan Krisis Kemanusiaan

Kritik terhadap Israel semakin meningkat, dengan Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Volker Turk, menuduh Israel menggunakan makanan sebagai senjata, dan mendesak penyelidikan menyeluruh atas insiden tersebut. Kepala UNRWA, Philippe Lazzarini, menyatakan bahwa tragedi di Gaza terus berlanjut di saat perhatian dunia semakin memudar.

Kelompok Hamas pun mengecam situasi ini, menyebut titik-titik distribusi bantuan sebagai “jebakan maut.” Rangkaian penjarahan oleh kelompok kriminal dan milisi bersenjata, termasuk dari kalangan internal Hamas, semakin memperburuk keadaan.

Krisis Berkepanjangan di Gaza

Sejak serangan Hamas ke wilayah Israel pada 7 Oktober 2023, yang menyebabkan kematian lebih dari 1.200 orang serta penyanderaan lebih dari 250 orang, Israel melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Gaza. Menurut informasi dari Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 55.000 warga Palestina telah tewas dalam 20 bulan terakhir. Namun hingga saat ini, belum ada rencana konkret dari Israel, Gaza Humanitarian Foundation (GHF), atau komunitas internasional untuk menghentikan kekerasan yang semakin meluas ini.

Situasi di Gaza tetap kritis, dengan warga sipil yang berjuang untuk mendapatkan akses dasar terhadap makanan dan perawatan medis. Insiden penembakan terbaru ini menyoroti tantangan besar yang dihadapi oleh masyarakat di tengah konflik yang berkepanjangan dan menambah daftar panjang krisis kemanusiaan yang tak kunjung usai.

Berita Terkait

Back to top button