Iran mengambil risiko besar dengan melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan dan aset militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk. Langkah itu berpotensi memperdalam keretakan diplomatik Teheran dengan para tetangganya di kawasan.
Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab menjadi wilayah yang disebut terdampak atau menjadi sasaran karena menampung fasilitas militer AS. Bagi Iran, pertimbangan pertahanan tampaknya kini ditempatkan di atas upaya menjaga kemitraan regional.
Target Militer dan Risiko bagi Hubungan Kawasan
Serangan Iran diarahkan pada negara-negara yang memiliki peran berbeda dalam penempatan kekuatan militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Berikut gambaran sasaran yang disebut dalam laporan www.suara.com.
| Negara | Fasilitas atau Peran AS | Dampak yang Disebut |
|---|---|---|
| Qatar | Pangkalan Udara Al Udeid | Terdampak serangan rudal |
| Kuwait | Fasilitas militer | Kerusakan dan korban luka pada personel |
| Bahrain | Markas Komando Pusat Angkatan Laut AS | Menjadi sasaran serangan |
| Uni Emirat Arab | Fasilitas militer AS di wilayahnya | Menjadi target serangan |
Sasaran tersebut memperlihatkan bahwa ketegangan tidak hanya menyentuh hubungan Iran dan Amerika Serikat. Negara-negara Teluk ikut menghadapi konsekuensi keamanan karena keberadaan infrastruktur militer AS di wilayah mereka.
Sina Azodi, asisten profesor politik Timur Tengah di Elliott School of International Affairs, Universitas George Washington, menilai Iran telah menghitung dampak dari pilihan itu. Ia mengatakan kepada Al Jazeera, “Ada risiko yang saya yakini telah diterima oleh Iran untuk diambil.”
Konflik Dipandang sebagai Pertarungan Kelangsungan Hidup
Menurut Azodi, Iran bersedia mengambil risiko memburuknya hubungan dengan negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk atau GCC. Penilaian itu berangkat dari keyakinan Teheran bahwa konflik yang berlangsung merupakan perjuangan untuk bertahan hidup.
“Inilah mengapa mereka mempertaruhkan memburuknya hubungan lebih lanjut dengan negara-negara GCC, karena mereka percaya bahwa mereka sedang berjuang untuk bertahan hidup,” ujar Azodi. Pernyataan tersebut menggambarkan tekanan strategis yang dihadapi Iran ketika memilih respons militer di kawasan.
Indikasi sikap defensif Teheran juga muncul dari pernyataan sejumlah pejabat tinggi Iran. Mohammad Bagher Ghalibaf, yang disebut sebagai salah satu negosiator nuklir utama dan ketua parlemen Iran, menggambarkan pertempuran saat ini bukan sebagai konflik biasa.
Ghalibaf memandang situasi tersebut sebagai perang untuk kelangsungan hidup bangsa. Cara pandang itu menjadi dasar penting untuk memahami mengapa Iran bersedia mengorbankan hubungan yang selama ini telah dibangun dengan negara-negara sekitar Teluk.
Hubungan Iran dan GCC Masih Bisa Berubah
Hubungan Iran dengan negara-negara GCC selama ini memang bergerak naik turun akibat perbedaan kepentingan politik dan keamanan. Eskalasi militer terbaru membawa hubungan itu ke salah satu titik diplomatik yang paling mengkhawatirkan.
Meski demikian, Azodi memperkirakan keretakan tersebut tidak akan berlangsung permanen. Ia menilai hubungan Iran dan GCC dapat membaik dalam jangka menengah hingga panjang setelah perang berakhir dan tercapai penyelesaian politik dengan Amerika Serikat.
“Begitu perang ini berakhir dan penyelesaian politik dengan Amerika Serikat tercapai, dalam jangka menengah dan panjang, hubungan antara GCC dan Iran akan membaik,” kata Azodi. Hingga ada kesepakatan politik, fokus Iran terhadap pertahanan domestik diperkirakan tetap menekan ruang diplomasi regional.
Source: www.suara.com






