Banjir Bandang di Nuristan Tewaskan 20 Orang, Lebih dari 100 Warga Masih Hilang

Banjir bandang di Provinsi Nuristan, Afghanistan, menewaskan 20 orang dan melukai sekitar 80 lainnya. Lebih dari 100 orang masih dilaporkan hilang setelah arus besar menerjang Kota Parun serta sejumlah wilayah lain.

Angka korban ini memperlihatkan besarnya dampak bencana di wilayah timur Afghanistan yang dikenal memiliki banyak kawasan terpencil. Tim pencarian dan penyelamatan telah dikerahkan untuk mencari warga yang belum ditemukan.

Otoritas Nasional Penanggulangan Bencana Afghanistan menyampaikan bencana tersebut terjadi pada Senin, 20 Juli 2026. Juru bicara lembaga itu, Yousaf Hammad, mengatakan banjir membawa korban jiwa sekaligus kerugian material yang besar.

“Banjir besar yang melanda Kota Parun dan sejumlah wilayah lain di Provinsi Nuristan hari ini telah menimbulkan banyak korban jiwa dan kerugian materi,” kata Hammad, seperti dilaporkan Associated Press. Ia juga menyebut pencarian terhadap korban hilang masih menjadi perhatian utama di lokasi terdampak.

Rumah, Lahan Pertanian, dan Fasilitas Umum Rusak

Selain menimbulkan korban, banjir merusak banyak rumah warga, lahan pertanian, serta fasilitas umum. Kerusakan tersebut menambah tekanan bagi masyarakat di wilayah yang menghadapi keterbatasan infrastruktur.

Hammad mengimbau warga agar tidak mendekati daerah rawan banjir dan kawasan lain yang berisiko. Peringatan itu disampaikan ketika ancaman cuaca buruk masih membayangi sejumlah wilayah Afghanistan.

Pemerintah Afghanistan juga menyampaikan duka atas korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Juru bicara pemerintah, Zabihullah Mujahid, menyatakan harapan agar warga yang terluka segera pulih.

“Kami berduka setelah mengetahui banjir yang terjadi di Provinsi Nuristan sore ini telah menimbulkan korban jiwa dan kerusakan harta benda,” kata Mujahid. “Kami mendoakan mereka yang meninggal dalam bencana ini dan berharap para korban luka segera pulih.”

Ancaman Hujan Lebat Masih Berlanjut

Departemen meteorologi di bawah kementerian transportasi dan penerbangan sipil memperkirakan cuaca ekstrem masih akan melanda Afghanistan. Hujan lebat, badai petir, angin kencang yang membawa debu dan pasir, serta potensi banjir bandang diperkirakan terjadi di 10 dari 34 provinsi.

Kementerian tersebut meminta warga menjauhi bantaran sungai dan kawasan yang berpotensi diterjang banjir. Peringatan ini menjadi penting karena banjir bandang dapat datang tiba-tiba saat hujan deras melanda wilayah pegunungan dan daerah aliran sungai.

Afghanistan termasuk negara yang sangat rentan terhadap cuaca ekstrem. Hujan lebat dan salju kerap memicu banjir bandang yang dalam satu kejadian dapat menewaskan puluhan hingga ratusan orang.

PeriodeJenis BencanaKorban Meninggal
Musim semi 2024Banjir bandangLebih dari 300 orang
Awal tahun iniBanjir dan tanah longsorSetidaknya 110 orang

Menurut informasi yang dimuat www.liputan6.com, banjir bandang pada musim semi 2024 menewaskan lebih dari 300 orang di Afghanistan. Pada awal tahun ini, banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah lain juga merenggut sedikitnya 110 nyawa.

Kerentanan di Wilayah Terpencil

Dampak bencana di Afghanistan diperparah oleh konflik yang berlangsung selama puluhan tahun, buruknya infrastruktur, dan lemahnya perekonomian. Deforestasi serta dampak perubahan iklim turut memperbesar kerentanan banyak wilayah terhadap bencana alam.

Kondisi tersebut sangat terasa di daerah terpencil, tempat banyak rumah dibangun dari lumpur. Bangunan seperti itu tidak selalu mampu memberi perlindungan memadai ketika banjir datang mendadak atau ketika hujan salju turun dengan intensitas tinggi.

Dengan masih banyaknya warga yang belum ditemukan di Nuristan, operasi pencarian menjadi bagian penting dari penanganan bencana ini. Pada saat yang sama, peringatan cuaca dari pemerintah menegaskan bahwa risiko banjir masih mengancam wilayah lain di Afghanistan.

Source: www.liputan6.com
Terkait