Teknisi Ungkap Potensi Kecelakaan Boeing 787 Dreamliner Sebelum Insiden Air India

Pesawat Air India dengan nomor penerbangan 171 mengalami insiden tragis pada 12 Juni 2025, saat pesawat berjenis Boeing 787 Dreamliner jatuh di kota Ahmedabad, India, segera setelah lepas landas dari Bandara Internasional Sardar Vallabhabhai. Dalam kecelakaan ini, yang membawa 242 penumpang termasuk kru terbang menuju London, diperkirakan tidak ada yang selamat. Kecelakaan ini menjadi yang pertama untuk varian Dreamliner, namun ada laporan sebelumnya mengenai potensi masalah dari seorang teknisi bernama Richard Cuevas.

Richard Cuevas, yang bekerja untuk perusahaan kontraktor Storm, mengungkapkan kekhawatirannya terkait kualitas komponen pesawat pada 2023. Ia menemukan bahwa sejumlah lubang pada bagian penahan tekanan depan atau bulkhead tidak dibor sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan Boeing di fasilitas produksinya di Wichita, Kansas. Menurut Cuevas, kondisi ini dapat mengganggu daya dan tekanan udara, yang bisa berakibat fatal bagi keselamatan penumpang di udara.

Kekhawatiran Cuevas bukanlah tanpa dasar. Bulkhead merupakan komponen vital yang berfungsi untuk menjaga struktur pesawat agar tetap utuh saat terbang. Ianya seharusnya diproduksi dengan ketelitian yang tinggi untuk menjamin keselamatan. Cuevas menyatakan bahwa terdapat celah yang memicu risiko serius, dan menurutnya, tindakan melubangi komponen lebih besar dari spesifikasi yang ditentukan bisa menimbulkan ancaman yang tidak bisa diabaikan.

Setelah melaporkan temuan ini pada Oktober 2023 kepada pihak Boeing dan Spirit Aerosystems, ia justru mengalami pemecatan beberapa bulan setelahnya. Hal ini menimbulkan tanda tanya tentang respons perusahaan terhadap laporan yang ia buat. Meskipun Boeing melakukan penyelidikan setelah menerima laporan tersebut, mereka menyimpulkan bahwa isu yang diangkat Cuevas tidak menimbulkan masalah keselamatan. Boeing mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa semua laporan terkait keselamatan ditindaklanjuti secara serius dan hasil analisis teknik menandakan tidak adanya risiko.

Kejadian ini menciptakan kontradiksi antara laporan teknis Cuevas dan posisi Boeing, yang dapat mempengaruhi kepercayaan publik terhadap keselamatan pesawat. Kebangkitan kembali pertanyaan tentang prosedur pengawasan dan kualitas dalam industri penerbangan semakin mendesak. Selama beberapa tahun terakhir, industri ini telah berhadapan dengan tantangan peningkatan keselamatan dan keandalan, dan insiden ini hanya memperkuat urgensi untuk mereformasi prosedur yang ada.

Kecelakaan Air India semakin memperkeruh isu yang ada di saat kini. Pihak regulator penerbangan perlu mengambil langkah proaktif untuk memastikan bahwa semua laporan kekhawatiran dari teknisi dan pekerja di industri penerbangan ditangani dengan serius. Keamanan penumpang harus menjadi prioritas utama, agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan.

Situasi di lapangan menunjukkan perlunya transparansi dan akuntabilitas dari produsen pesawat serta para kontraktornya. Pengelolaan kualitas yang buruk dapat berpotensi mengakibatkan bencana yang fatal, seperti yang saat ini dihadapi oleh Air India dan pihak terkait.

Ke depan, langkah-langkah untuk memperkuat keamanan dan menjaga kepentingan keselamatan penumpang harus diambil dengan lebih serius. Kesalahan dan kelalaian tidak seharusnya dimaklumi; sebagai bagian dari industri penerbangan global, komitmen terhadap keselamatan harus dikedepankan. Namun, langkah-langkah konkret dan transparansi dalam penanganan laporan dari teknisi dan pekerja adalah langkah awal menuju perbaikan yang nyata.

Terkait