Israel disebut sedang menyiapkan kemungkinan kembali terlibat dalam serangan terhadap Iran ketika tekanan ekonomi di Teheran dinilai semakin berat. Tiga sumber Israel mengatakan rencana operasional untuk eskalasi lanjutan telah disusun dan pasukan diminta berada dalam siaga tinggi.
Langkah itu membuka risiko konflik yang lebih luas, terutama bila ketegangan di Selat Hormuz meningkat dan menyeret Israel ke pertempuran. Namun, keputusan untuk bertindak disebut belum pasti karena perkembangan diplomasi regional masih terus dipantau.
Ekonomi Iran Dinilai Menjadi Titik Rentan
Menurut penilaian pihak Israel, kondisi ekonomi Iran merupakan salah satu kerentanan terbesar bagi pemerintahan di Teheran. Penilaian tersebut mengemuka setelah protes massal yang dipicu inflasi terjadi pada Januari lalu.
Salah satu sumber Israel menilai serangan Amerika Serikat terhadap sejumlah jembatan di Iran baru-baru ini telah memberi dampak besar pada jaringan transportasi dan perdagangan negara itu. Sumber tersebut mengatakan, “Ekonomi Iran sedang runtuh, dan pada akhirnya ini akan semakin melemahkan rezim.”
Gangguan terhadap jalur transportasi dipandang dapat memperberat tekanan ekonomi yang sudah dirasakan Iran selama perang berlangsung berbulan-bulan. Meski begitu, tidak ada rincian angka mengenai dampak ekonomi maupun kerusakan infrastruktur yang disampaikan dalam laporan tersebut.
CNN Indonesia melaporkan bahwa Israel sejauh ini melihat kelanjutan situasi saat ini sebagai pilihan yang menguntungkan. Dalam skenario itu, Israel tetap berada di pinggir konflik ketika Amerika Serikat dan Iran terus saling menyerang serta belum mencapai kesepakatan nuklir.
Sejumlah Skenario Keterlibatan Israel
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan telah menggelar pertemuan keamanan terbatas pada Senin malam untuk meninjau situasi. Pertemuan itu membahas beberapa kemungkinan yang dapat membawa Israel masuk lebih jauh ke arena pertempuran.
| Skenario | Pemicu Keterlibatan Israel |
|---|---|
| Bergabung dalam operasi | Permintaan dari Washington |
| Membalas Iran | Langkah Iran yang memicu respons Israel |
| Serangan pendahuluan | Upaya menggagalkan ancaman dari Iran |
Salah satu sumber menyatakan Amerika Serikat belum meminta Israel untuk ikut dalam operasi yang disebut mulai meletus pada awal Juli. Saat ditanya mengenai kemungkinan permintaan bantuan dari Washington, sumber itu menjawab, “Kami akan siap.”
Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel, Eyal Zamir, juga menyampaikan pesan kesiapan militer pada Minggu. “Kami siap untuk segera kembali berperang dan akan bertindak dengan kekuatan besar terhadap siapa pun yang membahayakan kami,” katanya.
Target Energi dan Situs Nuklir Jadi Perhatian
Apabila akhirnya ikut bertempur, Israel disebut dapat membidik sasaran bernilai tinggi di Iran. Infrastruktur energi dan situs nuklir menjadi dua jenis target yang paling disorot oleh sumber tersebut.
Target itu dinilai dapat memengaruhi hasil akhir perang, tetapi juga menyimpan konsekuensi besar bagi negara-negara Teluk dan harga minyak. Risiko tersebut disebut menjadi salah satu alasan Amerika Serikat hingga kini belum ingin mengambil langkah serupa.
Pejabat senior Israel lain memperkirakan peluang eskalasi di Hormuz dan kemungkinan keterlibatan Israel meningkat dalam beberapa hari terakhir. Meski demikian, pejabat itu menekankan bahwa situasi tetap dinamis dan belum mengarah pada kepastian tindakan militer baru.
Upaya mediasi regional menjadi salah satu faktor yang diperhatikan Tel Aviv dalam menentukan langkah selanjutnya. Sejumlah pejabat Amerika Serikat juga dilaporkan mendorong jalur diplomasi untuk mencegah konflik berkembang menjadi lebih luas.
Dengan ekonomi Iran yang dinilai kian tertekan, kesiapan militer Israel kini berjalan beriringan dengan pengamatan terhadap respons Washington dan hasil mediasi. Arah krisis akan sangat ditentukan oleh apakah tekanan tersebut berujung pada perundingan atau justru memicu serangan baru.
