Pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Manila berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan. Bentrokan antara personel Filipina dan China di Second Thomas Shoal menambah tekanan pada agenda diplomasi kawasan yang sudah dibebani sengketa maritim dan krisis Myanmar.
Filipina dan China menyampaikan versi yang saling bertentangan mengenai insiden pada Senin, 20 Juli. Manila menuduh personel Penjaga Pantai China bertindak agresif, sedangkan Beijing menyebut kapal Filipina sebagai pihak yang lebih dulu memicu konfrontasi.
Insiden di sekitar BRP Sierra Madre
Militer Filipina menyatakan seorang awak angkatan lautnya terkena pukulan tongkat kayu di kepala ketika kapal China mendekati BRP Sierra Madre. Kapal perang yang telah lama dikandaskan itu digunakan Filipina sebagai pos militer di Second Thomas Shoal.
Menurut keterangan Angkatan Bersenjata Filipina, sebuah kapal Penjaga Pantai China yang membawa delapan personel datang untuk mengambil foto dan merekam video. Ketegangan meningkat saat dua kapal karet Filipina berupaya mengusir kapal tersebut dari sekitar BRP Sierra Madre.
Kompas.com melaporkan bahwa pihak Filipina menyerukan Beijing untuk menghentikan tindakan yang dinilai ilegal, koersif, agresif, dan menyesatkan di perairan yang disebut Manila sebagai Laut Filipina Barat. Filipina juga meminta China mematuhi Putusan Arbitrase 2016 yang, menurut Manila, menegaskan hak maritim sah negara itu berdasarkan hukum internasional.
China membantah tuduhan tersebut dan menyatakan kapal Filipina telah mengabaikan peringatan serta mendekati kapal patroli China dengan cara berbahaya. Beijing juga menuduh personel Filipina lebih dulu menggunakan dayung, tongkat kayu, dan peralatan lain untuk menyerang petugas penegak hukum China.
Pada Selasa, 21 Juli, Kementerian Luar Negeri China menyatakan telah memanggil Duta Besar Filipina untuk melayangkan protes resmi. China menyebut tindakan Manila di Ren’ai Reef, sebutan Beijing untuk Second Thomas Shoal, sebagai provokasi dan serangan yang disengaja.
Sengketa klaim dan reaksi sekutu Filipina
Filipina menempatkan Second Thomas Shoal di dalam zona ekonomi eksklusifnya yang membentang hingga 200 mil laut. Di sisi lain, China terus mengklaim hampir seluruh Laut China Selatan, meskipun putusan arbitrase internasional disebut menyatakan klaim itu tidak memiliki dasar hukum.
| Pihak | Sikap terhadap insiden | Pernyataan utama |
|---|---|---|
| Amerika Serikat | Mengecam China | Menyebut tindakan China berbahaya dan agresif terhadap personel Filipina. |
| Australia | Mengecam China | Menilai tindakan tersebut membahayakan dan mengganggu stabilitas kawasan. |
| Filipina | Menempuh langkah diplomatik | Menyatakan kekerasan terhadap personel angkatan lautnya tidak dapat diterima. |
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan tindakan China terhadap personel angkatan laut Filipina di Second Thomas Shoal mengganggu stabilitas kawasan. Juru bicaranya, Tommy Pigott, mengatakan pola provokasi China terhadap operasi maritim Filipina yang sah merusak perdamaian dan bertentangan dengan komitmen penyelesaian sengketa secara damai.
Australia turut menyampaikan kecaman melalui Menteri Luar Negeri Penny Wong. Ia menyebut tindakan China sebagai perilaku yang membahayakan dan mengganggu stabilitas.
Agenda ASEAN ikut dibayangi
Insiden itu terjadi ketika para menteri luar negeri ASEAN berkumpul di Manila bersama Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio. Sebelum berangkat, Rubio menyatakan terbuka untuk bertemu Wang Yi di sela pertemuan tersebut.
Dalam artikel opini di media Filipina, Rubio menekankan bahwa kebebasan navigasi di Asia Tenggara tidak dapat dianggap terjamin. Ia memperingatkan bahwa kendali perairan oleh kekuatan yang menggunakan perdagangan sebagai senjata geopolitik dapat mengancam kedaulatan, keamanan, dan masa depan ekonomi Amerika Serikat serta negara-negara ASEAN.
Bentrokan terbaru ini juga memunculkan keraguan terhadap harapan tercapainya Code of Conduct antara ASEAN dan China di Laut China Selatan. Perundingan aturan perilaku itu dipandang penting karena sengketa di perairan tersebut terus melibatkan kepentingan keamanan, jalur perdagangan, dan kedaulatan sejumlah negara.
Di luar sengketa maritim, isu Myanmar tetap menjadi agenda utama dalam forum ASEAN. Thailand kembali mendorong Myanmar agar dilibatkan sepenuhnya, sementara Malaysia masih menolak normalisasi hubungan tingkat tinggi selama penindasan di negara itu berlanjut.
Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow mengatakan, “Yang terbaik adalah membawa Myanmar kembali ke dalam keluarga ASEAN.” Namun, perbedaan pandangan mengenai Myanmar dan memanasnya situasi di Second Thomas Shoal menunjukkan beratnya tantangan diplomasi yang dihadapi ASEAN di Manila.
Source: www.kompas.com






