Perang Israel-Iran Sukses Mengganggu Pariwisata Thailand Mulai 2025

Perang antara Israel dan Iran yang terus berkecamuk kini mulai menunjukkan dampaknya pada sektor pariwisata Thailand. Menurut laporan terbaru, penurunan jumlah wisatawan dari beberapa negara di Timur Tengah, termasuk Iran, Irak, Yordania, Lebanon, dan Suriah, diperkirakan bisa mencapai 50 persen. Gubernur Otoritas Pariwisata Thailand (TAT), Thapanee Kiatphaibool, menjelaskan bahwa konflik ini berdampak signifikan pada perjalanan udara di kawasan tersebut.

Sejumlah maskapai penerbangan internasional yang melayani rute ke Thailand, seperti Emirates, Etihad, dan Qatar Airways, telah melangsungkan penyesuaian rute guna menghindari zona-zona konflik. Mahan Air, maskapai asal Tehran, menjadi salah satu yang paling terimbas, menunda penerbangannya ke Bangkok dan Phuket akibat penutupan ruang udara Iran. Dalam keadaan ini, pasar Iran tampak hilang selama periode krisis ini.

Dampak Terhadap Kunjungan Wisatawan

Data dari TAT menunjukkan bahwa lima negara yang disebutkan sebelumnya menyumbang sekitar 7 persen dari total kedatangan wisatawan Timur Tengah di Thailand pada Juni 2024, dengan total 100.781 orang. Ditambahkan oleh Thapanee, pihaknya memperkirakan kunjungan dari pasar ini dapat turun hingga 30-50 persen, yang berarti hanya berkisar antara 3.500 hingga 5.000 wisatawan selama bulan Juni. Penurunan ini terjadi pada saat festival Eid al-Adha, yang biasanya menjadi momen puncak perjalanan.

Lebih luas lagi, dampak negatif ini kemungkinan tidak hanya akan terbatas pada pasar tersebut. TAT sedang memantau situasi ini, karena negara-negara lain di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman, Kuwait, Qatar, dan Bahrain juga bisa terpukul jika persepsi keselamatan perjalanan udara menjadi buruk. Negara-negara tersebut menyumbang sekitar 80 persen dari total pasar Timur Tengah untuk pariwisata Thailand.

Industri Perhotelan Tertekan

Hotel-hotel di berbagai destinasi utama seperti Bangkok, Pattaya, Phuket, dan Chiang Mai menjadi yang paling terdampak dalam jangka pendek. Jika ketegangan dapat mereda dalam waktu dekat, TAT memperkirakan bahwa arus kedatangan wisatawan akan mulai pulih pada bulan Juli. Namun, harapan ini sangat bergantung pada seberapa parah kerusakan yang ditimbulkan akibat perang.

Beberapa maskapai, seperti Royal Jordanian Airlines, sudah merencanakan untuk kembali membuka rute ke Thailand, dengan penerbangan Amman-Bangkok dijadwalkan terbang dua kali dalam seminggu mulai Agustus. Upaya pemulihan ini menjadi tantangan besar bagi sektor pariwisata Thailand.

Target dan Harapan Masa Depan

TAT menargetkan untuk menarik sekitar 1,06 juta pengunjung dari Timur Tengah dalam tahun ini, yang merupakan peningkatan sebesar 11 persen dibandingkan tahun lalu. Dengan harapan bisa menghasilkan pendapatan sekitar 86 miliar baht, TAT menyadari bahwa perencanaan dan penyesuaian strategi diperlukan untuk mengatasi dampak jangka panjang yang mungkin dirasakan.

Dalam konteks ini, pemulihan pariwisata Thailand akan sangat bergantung pada stabilitas geopolitik yang lebih luas. Ketidakpastian di Timur Tengah dapat terus mempengaruhi persepsi wisatawan tentang keselamatan, dan ini pada gilirannya dapat berpengaruh besar terhadap sektor pariwisata yang menjadi salah satu pilar ekonomi Thailand.

Dengan tantangan yang ada, penting bagi pelaku industri pariwisata Thailand untuk beradaptasi agar dapat terus menarik wisatawan di tengah situasi yang tidak menentu ini.

Terkait