Air India Pecat 2 Kru karena Bocorkan Informasi Kerusakan Boeing 787

Shopee Flash Sale

Dua mantan kru kabin senior Air India diberhentikan setelah melaporkan kerusakan pada pesawat Boeing 787-8 Dreamliner. Pengungkapan ini terjadi setahun sebelum insiden tragis pada 12 Juni di Ahmedabad yang menewaskan 241 dari 242 penumpang dalam penerbangan tersebut. Dalam surat yang mereka kirimkan kepada Perdana Menteri Narendra Modi, kedua pelapor menuduh bahwa mereka mengalami tindakan balas dendam perusahaan setelah melaporkan masalah teknis pesawat.

Menurut surat tersebut, insiden yang melibatkan pesawat VT-ANQ terjadi pada 14 Mei 2024, setelah penerbangan AI129 dari Mumbai ke London Heathrow selesai. Ketika pintu pesawat berada dalam mode manual, pihak kru menyatakan bahwa rakit luncur darurat aktif secara tidak terduga, yang seharusnya tidak terjadi dalam kondisi tersebut. Kejadian ini didokumentasikan oleh pilot dan penanggung jawab kabin, tetapi mereka menghadapi tekanan untuk mengubah pernyataan yang telah dibuat.

Surat tersebut mengungkapkan bahwa ketika kru menolak untuk membengkokkan kebenaran, mereka kemudian diberhentikan dari pekerjaan. Sebelumnya, pilot yang melaporkan masalah ini juga mengubah pernyataan awalnya, dengan mengklaim bahwa ia tidak menyaksikan pintu pesawat terbuka saat kejadian. Permasalahan ini menunjukkan adanya potensi upaya untuk menyembunyikan masalah serius yang berkaitan dengan keselamatan penerbangan tersebut.

Kedua pelapor juga mengkritik manajemen Air India dan Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil (DGCA) karena tidak melakukan penyelidikan formal terhadap insiden ini. Mereka mengklaim bahwa manajemen hanya melaksanakan “penyelidikan informal” dan menahan laporan akhir, serta mengabaikan insiden-insiden lain yang melibatkan Boeing 787. Mereka menuduh bahwa saksi-saksi kunci lainnya dikecualikan dari proses investigasi ini, sehingga meragukan objektivitas dan integritas penyelidikan.

Kondisi ini menciptakan suasana ketidakpercayaan di antara para kru Air India, yang merasa bahwa perlindungan keselamatan penerbangan tidak diprioritaskan. Keduanya memandang tindakan perusahaan seperti itu sebagai praktik yang merugikan bukan hanya untuk karyawan, tetapi juga untuk keselamatan penumpang.

Sebagai dampak dari masalah ini, Air India menghadapi sorotan publik yang semakin meningkat. Proses administrasi dan manajemen keselamatan penerbangan menjadi kritis untuk diperhatikan. Ketidakpuasan di kalangan staf dapat menyebabkan krisis lebih lanjut jika masalah ini tidak ditangani dengan benar.

Dalam konteks yang lebih luas, insiden ini menggambarkan tantangan yang dihadapi oleh industri penerbangan di seluruh dunia, di mana keselamatan sering kali menjadi pertimbangan utama. Masalah yang timbul dari pengabaian laporan teknis dapat berujung pada konsekuensi yang fatal, seperti kecelakaan yang terjadi pada 12 Juni lalu.

Dengan pengawasan yang lebih ketat dari regulator dan perlunya transparansi yang lebih besar dalam proses investigasi, diharapkan situasi ini dapat mendorong perubahan positif dalam proses manajerial di Air India dan operator penerbangan lainnya. Dalam surat mereka kepada Perdana Menteri Modi, kedua mantan kru ini berharap agar tanggung jawab dituntut dan keadilan ditegakkan, demi keselamatan publik di masa depan.

Selain itu, para ahli penerbangan mengingatkan bahwa budaya perusahaan yang menekan pelaporan insiden dapat mengganggu keselamatan. Ini merupakan aspek yang perlu disikapi serius oleh manajemen Air India dan DGCA untuk mencegah terjadinya kejadian serupa di masa mendatang.

Berita Terkait

Back to top button