Plt PM Thailand Sepakat Gencatan Senjata dengan Kamboja, Namun Ada Syarat

Pelaksana tugas Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, telah menyatakan kesediaan untuk melakukan gencatan senjata dalam konflik perbatasan yang sedang berlangsung dengan Kamboja. Namun, kesepakatan ini disertai dengan syarat tegas bagi pemerintah Kamboja. Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap tawaran Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang juga menjabat sebagai Ketua ASEAN, untuk memediasi situasi yang semakin memanas di kawasan tersebut.

Dalam pernyataannya, Wechayachai menekankan perlunya Kamboja menunjukkan ketulusan dalam niat mereka untuk menghentikan provokasi. Ia mengaitkan provokasi tersebut dengan peningkatan serangan lintas batas yang berasal dari pihak Kamboja. "Kamboja harus memberikan kejelasan yang jelas sebelum kita bisa melanjutkan pembicaraan tentang gencatan senjata," ungkapnya, merujuk pada situasi di mana Kamboja membuka empat front utama dalam agresi militer yang menargetkan wilayah Thailand di provinsi Buriram, Surin, Sisaket, dan Ubon Ratchathani.

Serangan Terus Berlanjut

Konflik ini telah menyebabkan kekacauan dan ketegangan di sepanjang perbatasan. Pertempuran yang telah berlangsung sejak dini hari di sekitar kompleks kuil Ta Muen Thom dan Ta Khwai di Distrik Phanom Dong Rak menunjukkan escalasi yang signifikan dalam bentrokan, dengan laporan mengenai tembakan artileri yang terus-menerus. Wechayachai mengecam kedua pemimpin Kamboja, Hun Sen dan Hun Manet, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas berbagai serangan yang menargetkan warga sipil, termasuk serangan terhadap minimarket dan rumah sakit, yang dianggap sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional.

Menangani Konsekuensi dan Bantuan

Seiring dengan meningkatnya ketegangan, pemerintah Thailand juga mengambil langkah-langkah untuk menangani dampak dari konflik ini. Wechayachai mengonfirmasi persetujuan dana tambahan sebesar 100 juta baht (sekitar Rp50,4 miliar) untuk provinsi-provinsi perbatasan. Selain itu, kompensasi untuk korban jiwa ditingkatkan menjadi 1 juta baht (Rp504 juta), sementara kompensasi bagi korban yang luka akan ditinjau berdasarkan kasus individual.

Juru bicara Angkatan Darat Kerajaan Thailand, Mayor Jenderal Winthai Suvaree, menegaskan bahwa operasi militer Thailand berfokus pada sasaran militer dan dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip hukum internasional. Ini merespons tuduhan dari media Kamboja yang menyebut Thailand menggunakan jet tempur F-16 untuk menyerang wilayah sipil.

Situasi Memanas, Panggilan untuk Perdamaian

Latar belakang konflik ini melibatkan ketegangan historis antara Thailand dan Kamboja, yang telah ada selama bertahun-tahun. Bentrokan baru-baru ini menunjukkan bahwa situasi ini dapat memicu dampak yang lebih luas, termasuk bagi masyarakat sipil di kedua belah pihak. Pernyataan Wechayachai dan usulan Anwar menunjukkan adanya keinginan untuk mencari solusi damai, meskipun tantangan yang dihadapi sangat signifikan.

Kondisi di perbatasan harus menjadi perhatian tidak hanya bagi kedua negara, tetapi juga bagi komunitas internasional. Komitmen untuk berunding dan menyelesaikan ketegangan ini merupakan langkah awal yang penting menuju stabilitas di kawasan.

Dalam konteks ini, banyak yang berharap agar inisiatif Malaysia dapat memberikan solusi yang konstruktif dan mengarah pada perdamaian yang berkepanjangan di wilayah yang tengah dilanda konflik. Sebagai langkah selanjutnya, monitor yang lebih ketat terhadap perbatasan dan peningkatan komunikasi antar negara dapat membantu dalam meredakan ketegangan yang ada.

Exit mobile version