Presiden Donald Trump baru saja menandatangani perintah eksekutif yang mengangkat tarif pada impor dari Brasil menjadi 50 persen, meningkat drastis dari 10 persen sebelumnya. Kebijakan ini berlaku efektif mulai awal Agustus dan menciptakan dampak signifikan terhadap perdagangan bilateral antara Amerika Serikat dan Brasil. Keputusan ini diambil di tengah tuduhan bahwa pemerintah Brasil telah melakukan "pelanggaran hak asasi manusia serius," terutama terkait dengan pengadilan terhadap mantan presiden Jair Bolsonaro yang dituduh berupaya melakukan kudeta.
Alasan di balik pemberlakuan tarif tinggi ini bukan hanya ekonomi, melainkan juga mencerminkan ketegangan politik antara kedua negara. Dalam dokumen resmi, Trump menyebut pengadilan Bolsonaro sebagai “bermotivasi politik,” yang menunjukkan bahwa tindakan ini diambil sebagai respons terhadap situasi politik dalam negeri Brasil, bukan semata-mata karena pertimbangan perdagangan. Untuk sebagian besar ekspor utama Brasil, seperti jus jeruk, pesawat Embraer, minyak, dan kacang Brasil, tarif ini tidak akan diberlakukan, meskipun kopi akan dikenakan tarif yang lebih tinggi.
Selain pengenaan tarif, pemerintah AS juga mengenakan sanksi terhadap Hakim Mahkamah Agung Brasil, Alexandre de Moraes, menyusul tuduhan terhadapnya terkait "perburuan politik" terhadap Bolsonaro. Langkah ini dapat dilihat sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk memengaruhi politik Brasil dan mengubah arah kebijakan pemerintah di negara tersebut.
Tarif pada Produk Tembaga
Di samping kebijakan tarif untuk Brasil, Trump juga mengenakan tarif 50 persen pada produk tembaga setengah jadi, termasuk pipa dan kawat, mulai 1 Agustus. Langkah ini dianggap penting untuk mendukung industri tembaga domestik AS di tengah kekhawatiran akan ketergantungan pada impor. Mengimpor senilai US$17 miliar pada 2024, dengan Cile sebagai pemasok terbesar, penasaran harga barang seperti elektronik dan mobil pun terdampak oleh tarif tersebut. Meskipun tarif ini tidak berlaku untuk tembaga olahan, yang penting dalam proses manufaktur, penerapan tarif ini tetap menimbulkan risiko kenaikan harga bagi konsumen.
Penghapusan Pengecualian Pajak Impor
Kebijakan lain yang diperkenalkan oleh Trump adalah penghapusan pengecualian pajak "de minimis," yang sebelumnya mengizinkan pengiriman barang senilai US$800 atau kurang untuk bebas bea. Kebijakan ini efektif per 29 Agustus dan bertujuan untuk menutup celah yang mungkin memudahkan pengiriman murah dari negara ketiga, khususnya oleh perusahaan e-commerce besar seperti Shein dan Temu.
Pengecualian ini masih berlaku untuk barang pribadi senilai maksimum US$200 yang dibawa oleh pelancong AS dan hadiah senilai US$100 atau kurang. Pada tahun fiskal lalu, Badan Bea Cukai AS mengelola 1,36 miliar paket di bawah pengecualian ini, mayoritas berasal dari Tiongkok dan Hong Kong.
Dampak dan Reaksi
Kebijakan baru ini memperluas perang dagang yang diinisiasi oleh administrasi Trump, yang dapat berimplikasi pada peningkatan harga barang tertentu bagi konsumen di AS. Meskipun investor dan pelaku bisnis telah memperkirakan dampak dari tarif tembaga, pelonggaran di beberapa bidang membuat pasar merasa lebih tenang. Namun, pendekatan terhadap Brasil tampaknya lebih berakar pada aspek politik ketimbang ekonomi.
Keputusan ini memicu berbagai reaksi, termasuk dari pemerintah Brasil dan pelaku bisnis. Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, menanggapi ancaman ini dengan pernyataan tegas, menekankan bahwa Trump adalah presiden Amerika Serikat, bukan kaisar dunia. Hal ini menunjukkan betapa ketegangan hubungan antara kedua negara akan terus berlanjut seiring dengan kebijakan proteksionis yang semakin memperkuat posisi masing-masing.
Dengan langkah ini, Amerika Serikat menunjukkan bagaimana hubungan internasional dapat dipengaruhi oleh kebijakan domestik dan konflik politik, menggambarkan dinamika kompleks dalam perdagangan global.
