Seperti Engkau Belah Lautan untuk Musa: Kirim Botol-Botol ke Gaza

Di tengah blokade yang berkepanjangan di Jalur Gaza, sebuah inisiatif simbolis bernama “Dari Laut ke Laut – Sebotol Harapan untuk Gaza” diluncurkan oleh warga Mesir. Inisiatif ini bertujuan untuk menunjukkan solidaritas kepada warga Palestina yang mengalami kelaparan akut akibat hambatan dalam distribusi bantuan kemanusiaan.

Para pelaksana inisiatif ini mengisi botol plastik berukuran satu hingga dua liter dengan bahan makanan kering, seperti beras, lentil, dan biji-bijian. Botol-botol tersebut kemudian dilemparkan ke Laut Mediterania, harapannya agar arus laut dapat mengantarkan mereka ke pantai Gaza dalam waktu singkat. Dalam salah satu rekaman video yang menyebar luas di media sosial, sebuah aksi melempar botol dilakukan oleh seorang pria Mesir, yang berdoa dengan penuh harap agar botol-botol itu sampai. “Terimalah ini wahai saudaraku (di Gaza). Ini untuk kalian,” ujarnya, mengungkapkan ketulusan hati warga Mesir terhadap saudaranya di Gaza.

Aksi ini merupakan cerminan dari “keputusasaan yang bermartabat” yang dirasakan masyarakat di tengah kebuntuan politik dan pemblokiran militer yang membuat ribuan truk bantuan tidak bisa masuk ke Palestina. Salah satu inisiator, seorang akademisi yang tinggal di Jepang, menjelaskan secara ilmiah tentang peluncuran botol-botol ini. Ia merekomendasikan penggunaan jerigen plastik berkapasitas 25 liter untuk menampung bahan makanan lebih banyak, dengan perhitungan tertentu agar arus laut dapat membawa bantuan tersebut ke tujuan yang diinginkan.

Media lokal, seperti NewArab, melaporkan bahwa aksi ini telah menjelma menjadi sebuah fenomena di media sosial, mendapatkan respons positif sebagai ungkapan dari masyarakat sipil yang merasa terjebak oleh ketidakberdayaan pemerintah. Namun, banyak juga yang mengajak agar inisiatif ini tidak berhenti pada simbolisme semata, melainkan berkembang menjadi gerakan yang lebih strategis. Mereka mendorong dukungan terhadap organisasi kemanusiaan terpercaya dan menuntut adanya tekanan internasional kepada Israel untuk membuka jalur bantuan darat.

Krisis kemanusiaan di Gaza semakin memuncak. Laporan menyebutkan bahwa lebih dari 950 truk bantuan terjebak di perbatasan Mesir-Gaza, sementara lebih dari seribu warga Palestina telah kehilangan nyawa dalam usaha mencari makanan sejak Mei lalu. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, bahkan menyebut kondisi malnutrisi di Gaza sebagai “krisis buatan manusia,” menggarisbawahi pentingnya perhatian global terhadap situasi ini.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, setidaknya 59.219 warga Palestina telah tewas sejak agresi militer Israel dimulai pada Oktober 2023. Angka ini ternyata masih diyakini jauh lebih besar, mengingat ribuan korban diperkirakan masih terkubur di reruntuhan bangunan. Dalam situasi ini, aksi simbolis dari warga Mesir menjadi lebih dari sekadar bentuk kepedulian; ini adalah panggilan untuk memperjuangkan keadilan dan membantu sesama manusia di tengah krisis yang berlangsung.

Inisiatif ini juga mengajak masyarakat di negara-negara pesisir Mediterania, seperti Libya, Tunisia, Aljazair, dan Maroko, untuk turut ambil bagian. Melalui kolaborasi lintas negara ini, harapannya adalah menciptakan gelombang dukungan yang lebih besar untuk Gaza, menunjukkan bahwa suara dan tindakan solidaritas dapat melawan ketidakadilan bahkan dari jauh. Aksi ini, meskipun sederhana, menjadi cerminan harapan di tengah kegelapan, dan menjadi pengingat bahwa kemanusiaan masih dapat bersatu demi kebaikan bersama.

Exit mobile version