Angkatan Laut Rusia dan China saat ini sedang melakukan latihan militer bersama di Laut Jepang, yang merupakan bagian dari kegiatan yang dikenal sebagai Maritime Interaction 2025. Latihan ini diadakan dua hari setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pengerahan dua kapal selam nuklir AS, yang merupakan respon terhadap pernyataan kontroversial Dmitry Medvedev, mantan Presiden Rusia dan kini Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia. Ini menandakan ketegangan yang meningkat antara ketiga negara besar tersebut.
Latihan ini tidak hanya melibatkan kapal perang anti kapal selam besar dari Rusia dan dua kapal perusak dari China, tetapi juga kapal selam diesel listrik dari kedua negara serta kapal penyelamat kapal selam dari China. Menurut Armada Pasifik Rusia, kegiatan ini direncanakan jauh sebelum pernyataan Trump diumumkan, dan berlangsung hingga Selasa, 5 Agustus 2025. Dalam latihan ini, para pelaut akan melakukan simulasi pertahanan udara, tembakan artileri, serta pencarian dan penyelamatan gabungan di laut.
Kemitraan antara Rusia dan China semakin mendalam pasca-invasi Rusia ke Ukraina tahun lalu. Dalam konteks ini, kedua negara secara rutin melakukan latihan militer bersama untuk memperkuat koordinasi dan menunjukkan kemampuan militer mereka di kawasan. Pendekatan ini jelas diyakini sebagai strategi untuk mengirim sinyal pencegahan kepada negara-negara yang dianggap sebagai rival.
Pernyataan Trump mengenai pengerahan kapal selam nuklir AS dinilai mengganggu karena kedua negara besar tersebut biasanya tidak membahas secara terbuka lokasi dan penggunaan armada nuklir mereka. Ini menciptakan ketegangan yang lebih besar di tengah frustrasi yang meningkat terkait proses negosiasi damai dalam situasi yang sedang berlangsung di Ukraina.
Lebih lanjut, komentar Trump mengenai penempatan kapal selam tersebut muncul di saat AS berusaha mendesak Rusia untuk mengakhiri konflik di Ukraina. Di sisi lain, latihan militer yang dijalankan oleh Rusia dan China dapat dipersepsikan sebagai upaya untuk menunjukkan soliditas mereka di tengah tekanan internasional.
Latihan Maritime Interaction 2025 ini menggambarkan dinamika geopolitik yang kompleks di kawasan Asia-Pasifik. Dengan meningkatnya ketegangan dan ketidakpastian, baik Rusia maupun China tampaknya berusaha menunjukkan kekuatan mereka, tidak hanya kepada AS tetapi juga kepada negara-negara lainnya yang berada di kawasan tersebut.
Latihan ini menjadi salah satu indikasi penting dari langkah strategis Rusia dan China dalam meningkatkan kerjasama militer mereka. Kita dapat mengharapkan lebih banyak interaksi militer antara kedua negara di masa depan, terutama di tengah situasi global yang terus berubah.
Dalam konteks yang lebih luas, situasi ini menyoroti pergeseran kekuasaan di panggung internasional, di mana koalisi yang dibentuk antara negara-negara besar menciptakan tantangan baru bagi kebijakan luar negeri negara-negara seperti AS. Sementara proses diplomasi mungkin terus berjalan, latihan-latihan militer ini menunjukkan bahwa kekuatan militer tetap menjadi pilar penting dalam strategi nasional.
Sampai saat ini, situasi di Laut Jepang masih sangat dinamis, dan perhatian dunia akan tertuju pada langkah-langkah selanjutnya dari Rusia, China, dan AS. Evolusi hubungan antarnegara dalam konteks militer ini menambah kompleksitas dan tantangan baru di era globalisasi yang semakin terhubung.
