Kepolisian Thailand telah meluncurkan operasi besar-besaran dengan menggeledah 200 kuil Buddha di seluruh negeri untuk memburu 181 tersangka kriminal, di mana 154 di antaranya adalah biksu. Operasi ini dilakukan setelah banyak laporan mengenai kejahatan yang melibatkan oknum biksu, termasuk korupsi, pencucian uang, dan perdagangan narkoba.
Operasi yang dimulai pada Selasa (5/8/2025) ini bertujuan untuk menindak tegas tindakan ilegal yang memilih kuil sebagai tempat persembunyian dari hukum. Dari data kepolisian, terdapat satu kepala biara dan 27 orang mantan biksu yang juga menjadi target dalam penggerebekan ini. Walaupun masih banyak yang belum ditangkap, langkah drastis ini menunjukkan keseriusan penegakan hukum di Thailand.
Salah satu contoh konkret dari operasi ini adalah penangkapan Surat Lungtia, seorang biksu berusia 45 tahun dari Kuil Wat Wan Boon di Provinsi Pathum Thani. Ia ditangkap karena diduga terlibat dalam pencucian uang untuk jaringan narkoba. Menariknya, Surat membantah semua tuduhan dan mengklaim bahwa rekening banknya digunakan tanpa sepengetahuannya untuk aktivitas ilegal. Ini menunjukkan betapa kompleksnya situasi yang melibatkan biksu dan kejahatan terorganisir.
Kepolisian telah melakukan pemeriksaan latar belakang terhadap 300.000 biksu, sebuah usaha yang mencerminkan upaya pemerintah Thailand dalam memberantas korupsi di lingkungan keagamaan. Pemeriksaan ini juga diikuti dengan dibukanya pusat pengaduan khusus untuk menerima laporan pelanggaran dari para biksu.
Skandal yang Melibatkan Puluhan Biksu
Kasus yang dihadapi oleh para biksu di Thailand bukanlah hal baru. Beberapa waktu lalu, banyak skandal seksual dan penyalahgunaan dana yang melibatkan mereka terungkap. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di masyarakat mengenai integritas dan moralitas biksu yang seharusnya menjadi panutan. Kejadian ini membuat banyak orang mengevaluasi kembali rasa hormat yang selama ini mereka berikan kepada sosok biksu.
Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat peningkatan ketidakpuasan di kalangan masyarakat atas tindakan tidak etis yang dilakukan oleh sejumlah biksu. Dengan banyaknya skandal yang terungkap, kepercayaan masyarakat terhadap institusi keagamaan mulai merosot. Hal ini memperkuat argumen untuk perlunya regulasi yang lebih ketat dalam lingkungan keagamaan.
Reaksi Masyarakat dan Langkah Selanjutnya
Reaksi masyarakat terhadap operasi ini beragam. Sementara sebagian orang mendukung tindakan tegas ini, ada juga yang merasa khawatir tentang dampaknya terhadap citra agama Buddha di Thailand. Biksu seharusnya menjadi simbol kedamaian dan moralitas, namun dengan adanya sejumlah oknum yang terlibat kejahatan, hal ini menjadi tantangan serius bagi ajaran Buddha itu sendiri.
Kepolisian mengungkapkan bahwa mereka akan terus melanjutkan penyelidikan dan operasi penggeledahan untuk memastikan bahwa semua tersangka ditangkap dan dibawa ke pengadilan. Mereka juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan masyarakat dalam memberikan informasi yang berkaitan dengan kegiatan mencurigakan di sekitar kuil-kuil.
Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah Thailand mungkin perlu mempertimbangkan reformasi dalam pengelolaan kuil dan biksu, menjaga agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Ini bisa meliputi peninjauan terhadap peraturan dan peningkatan pendidikan bagi biksu supaya lebih memahami tanggung jawab moral mereka.
Sebagai kesimpulan, kejadian ini menggambarkan perubahan besar yang harus dihadapi oleh keagamaan di Thailand. Dengan tindakan penegakan hukum yang lebih transparan dan akuntabel, harapan untuk membersihkan nama baik agama Buddha di negara tersebut masih tetap ada, walaupun perjalanan untuk mencapai tujuan tersebut akan memerlukan waktu dan usaha yang signifikan.
