Netanyahu dan Kepala Militer Israel Bertikai soal Rencana Caplok Gaza

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, terlibat dalam perselisihan sengit dengan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, terkait rencana pemerintahan untuk menduduki sepenuhnya Jalur Gaza. Dalam perdebatan tersebut, Zamir berpendapat bahwa langkah tersebut dapat menjadi "jebakan" bagi Tentara Pertahanan Israel (IDF). Ketegangan ini mencerminkan perpecahan yang semakin dalam dalam strategi militer Israel di kawasan yang telah lama menjadi sengketa.

Menurut laporan dari Times of Israel, ketegangan antara Netanyahu dan Zamir meningkat ketika Yair Netanyahu, putra Perdana Menteri, ikut menyerang Eyal Zamir di media sosial, menuduhnya berusaha melakukan "pemberontakan" di tengah operasi militer. Dalam sebuah pernyataan yang diambil oleh media, Zamir menanggapi, "Mengapa kalian berbicara menentang saya di tengah perang?" Hal ini mencerminkan semakin rumitnya situasi saat Israel terlibat dalam operasi militer di Gaza.

Pendudukan Gaza dan Dampaknya

Zamir menyatakan keprihatinan mengenai rencana pendudukan penuh Gaza, yang mengancam jiwa sekitar 50 sandera yang ditahan oleh kelompok-kelompok teroris di wilayah tersebut. "Pendudukan penuh akan sangat membahayakan nyawa para sandera dan menyebabkan erosi kekuatan militer," tegasnya dalam pertemuan yang berlangsung tiga jam. Sementara itu, Netanyahu menanggapi kekhawatiran tersebut dengan meminta Zamir untuk menyiapkan rencana pendudukan untuk disajikan kepada kabinet.

IDF saat ini menguasai sekitar 75 persen dari Jalur Gaza. Rencana pendudukan baru ini dipandang sebagai langkah untuk memperluas kontrol Israel di seluruh kawasan tersebut, dengan dampak tidak jelas bagi jutaan warga sipil yang tinggal di dalamnya. Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, menyuarakan dukungan terhadap Zamir, mengkritik serangan terhadapnya sebagai "pengecut dan tidak realistis."

Perdebatan Strategi Militer

Pertikaian ini juga menyiratkan ketegangan antara kelompok menteri dalam kabinet dan pemimpin militer. Banyak menteri, seperti yang dilaporkan oleh stasiun televisi KAN, merasa keputusan untuk menduduki Gaza sepenuhnya perlu ditinjau kembali mengingat meningkatnya risiko bagi pasukan dan warga sipil. Zamir merekomendasikan pendekatan bertahap yang memungkinkan IDF untuk menghentikan operasi militer dengan lebih mudah jika gencatan senjata dapat dinegosiasikan.

Netanyahu, di sisi lain, menunjukkan tekad untuk meneruskan rencana pendudukan. Dia dikabarkan telah meninjau kembali kebijakan tersebut setelah negosiasi dengan Hamas mengalami jalan buntu dalam beberapa pekan terakhir. Seorang pejabat dekat Netanyahu bahkan menyatakan, "Jika Kepala Staf IDF tidak setuju, dia harus mengundurkan diri."

Pengaruh Internasional dan Konsolidasi Kekuasaan

Di tengah ketegangan internal ini, Netanyahu juga dilaporkan telah mendapatkan dukungan dari Presiden AS, Donald Trump, yang memberi "lampu hijau" untuk memperluas operasi militer. Ini menunjukkan adanya dukungan internasional yang mendukung langkah-langkah agresif dalam konteks konflik yang berlarut-larut.

Bila dilihat dari pergerakan di lapangan, semua langkah tersebut berpotensi akan menambah kompleksitas dalam situasi kemanusiaan yang sudah kritis di Gaza. Sementara itu, laporan terkini menunjukkan bahwa IDF memiliki agenda yang lebih luas, dengan rencana mensejajarkan penduduk sipil dan mencegah pergerakan kelompok militan.

Kesiapan Angkatan Bersenjata

Sumber di kantor Netanyahu menyatakan bahwa IDF telah siap untuk melaksanakan keputusan yang diambil oleh kabinet keamanan. Rapat kabinet yang akan berlangsung pada hari Kamis mendatang diprediksi akan menjadi momen kunci bagi keputusan strategis mengenai pendudukan Gaza. Dengan berbagai tekanan dari internal pemerintah, ketegangan ini akan terus membayangi proses pengambilan keputusan dan potensi implikasinya bagi situasi di Lapangan Gaza dan kawasan yang lebih luas.

Exit mobile version