CEK FAKTA: Iran Gelar Sayembara Bunuh Trump dan Netanyahu? Temukan Faktanya!

Isu mengenai sayembara untuk membunuh Donald Trump dan Benjamin Netanyahu menjadi sorotan setelah sebuah unggahan di media sosial mengklaim adanya tawaran resmi dari Iran. Unggahan tersebut, yang diposting oleh akun Facebook bernama “Sar Tono” pada 15 Juli 2025, mengindikasikan bahwa Iran telah menetapkan hadiah sebesar 184,9 miliar untuk individu yang bisa menghabisi kedua tokoh tersebut. Unggahan ini dengan cepat menarik perhatian, mendapatkan hampir 500 like dan dibagikan sebanyak 20 kali.

Namun, klaim tersebut segera menjadi bahan pemeriksaan fakta. Tim dari TurnBackHoax.id menelusuri informasi yang beredar dan tidak menemukan bukti valid terkait adanya video atau publikasi resmi dari Iran mengenai sayembara tersebut. Pencarian lebih lanjut menggunakan kata kunci “Iran offers millions for whoever kills Donald Trump and Netanyahu” di platform pencari internet juga tidak membuahkan hasil yang mendukung berita tersebut.

Menelaah lebih jauh, beberapa artikel berita yang relevan menyebutkan tawaran sebelumnya dari seorang anggota parlemen Iran, Ahmad Hamzeh, yang pada Januari 2020 mengumumkan hadiah sebesar 3 juta dolar untuk siapa saja yang dapat membunuh Presiden Trump. Tawaran ini dilatarbelakangi oleh kemarahan Iran setelah AS melakukan serangan yang menewaskan jenderal mereka, Qassem Soleimani. Komitmen ini bahkan terjadi sebelum ketegangan terbaru dalam konflik Israel-Palestina.

Sementara itu, pada Juli 2025, ulama senior Iran, Naser Makarem Shirazi, juga dikabarkan mengeluarkan fatwa yang berisi pendanaan untuk aktivitas yang ditujukan kepada Donald Trump, yang berhasil mengumpulkan lebih dari 40 juta dolar. Namun, penting untuk dicatat bahwa tidak ada referensi atau bukti yang mendukung klaim adanya sayembara serupa terkait Benjamin Netanyahu.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan, klaim mengenai sayembara untuk membunuh Trump dan Netanyahu tidak memiliki dasar fakta yang kuat. Hal ini menunjukkan bahwa unggahan yang beredar di media sosial tentang tawaran dari Iran merupakan informasi yang menyesatkan. Sayembara terkait Trump memang ada, namun untuk Netanyahu, tidak ada bukti yang menyatakan bahwa Iran telah mengeluarkan tawaran serupa, apalagi dengan angka yang sangat fantastis seperti yang disebutkan dalam unggahan viral tersebut.

Kejadian ini menegaskan betapa pentingnya verifikasi informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya, terutama di era digital saat ini, di mana informasi dapat dengan cepat menyebar tanpa memeriksa keakuratan. Fenomena ini juga mencerminkan tantangan yang dihadapi masyarakat dalam menghadapi hoaks atau berita bohong, yang sering kali memanfaatkan isu sensitif untuk menarik perhatian publik.

Sementara laporan-laporan sebelumnya memberikan gambaran yang lebih jelas tentang hubungan Iran dengan ancaman terhadap pemimpin dunia, konteks yang lebih luas harus dipahami dengan baik agar tidak terjebak dalam disinformasi. Penggunaan media sosial sebagai alat penyebaran informasi ini membuat kita harus lebih kritis dan selektif terhadap berbagai klaim, terutama yang berkaitan dengan isu politik internasional yang kompleks.

Sebagai penutup, masyarakat disarankan untuk selalu mengonfirmasi informasi dengan sumber terpercaya sebelum mengambil kesimpulan atau membagikannya lebih lanjut. Dalam dunia yang penuh dengan informasi dan disinformasi, kemampuan untuk memisahkan fakta dari fiksi adalah keterampilan yang semakin diperlukan.

Exit mobile version