AS-Tiongkok Sepakati Penangguhan Kenaikan Tarif Selama 90 Hari

Amerika Serikat dan Tiongkok sepakat untuk menunda rencana kenaikan tarif selama 90 hari, langkah yang diambil guna meredakan ketegangan perdagangan antara kedua negara. Keputusan ini diumumkan melalui perintah eksekutif yang ditandatangani oleh Presiden Donald Trump, yang mencegah lonjakan tarif dari 30% menjadi 64% atas barang impor dari Tiongkok yang sedianya berlaku mulai Selasa dini hari.

Penangguhan tarif ini menjadi upaya penting dalam menghindari eskalasi perang dagang yang telah menyebabkan biaya impor melonjak tajam, berdampak negatif pada pelaku usaha dan konsumen dari kedua negara. Konflik dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok sebenarnya mencapai level tertinggi sejak Depresi Besar, sehingga kesepakatan ini mendapat sambutan positif karena membuka ruang dialog kembali.

Latar Belakang Kesepakatan

Kesepakatan penangguhan kenaikan tarif muncul setelah pertemuan antara delegasi kedua negara di Swedia bulan lalu. Delegasi Tiongkok mengklaim bahwa pertemuan tersebut menghasilkan kesepahaman, namun pejabat Amerika Serikat, termasuk Menteri Keuangan Scott Bessent dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer, menegaskan bahwa keputusan akhir mengenai tarif masih berada di tangan Presiden Trump.

Presiden Trump menyebut hubungan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping sebagai “sangat baik” dan memilih untuk menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum mengambil langkah kebijakan berikutnya. Meskipun demikian, beberapa peringatan tetap diberikan, termasuk ancaman tarif besar yang dapat mencapai hingga 500% jika Tiongkok terus melakukan pembelian minyak dari Rusia, sesuai dengan rancangan undang-undang di Kongres AS.

Isu-isu Perdagangan yang Masih Berlanjut

Meski ada penangguhan tarif, sejumlah isu utama tetap menjadi sorotan dalam hubungan dagang kedua negara. Amerika Serikat menyoroti penjualan teknologi berfungsi ganda senilai lebih dari US$15 miliar yang dilakukan oleh Tiongkok ke Rusia, serta pembelian minyak dari Iran yang masih dikenai sanksi.

Selain itu, Washington juga menuntut peningkatan komitmen Tiongkok dalam ekspor komoditas strategis seperti magnet tanah jarang yang dianggap krusial bagi sektor teknologi dan pertahanan. Tidak kalah penting, AS mendorong penjualan aplikasi TikTok ke perusahaan AS sesuai tenggat waktu yang telah ditetapkan Kongres, dengan ancaman pelarangan operasi aplikasi tersebut jika permintaan tidak dipenuhi.

Dampak Penangguhan Tarif bagi Perekonomian Global

Penundaan kenaikan tarif ini diyakini memberikan waktu bagi kedua negara untuk merundingkan solusi yang lebih permanen dan mengurangi potensi dampak negatif bagi perekonomian global. Tarif tinggi yang sempat akan diberlakukan dapat memicu inflasi barang konsumsi dan mengganggu rantai pasok internasional.

Bagi pelaku bisnis, keputusan ini diharapkan dapat menstabilkan biaya impor dan memberikan kepastian terkait kegiatan ekspor-impor keduanya. Namun, kewaspadaan tetap dibutuhkan mengingat berbagai isu strategis dan ancaman tarif lanjutan belum sepenuhnya teratasi.

Langkah Selanjutnya dalam Negosiasi

Untuk saat ini, Amerika Serikat dan Tiongkok akan menggunakan periode 90 hari tersebut sebagai kesempatan untuk melanjutkan negosiasi yang masih terbuka. Meskipun hubungan bilateral menunjukkan tanda-tanda perbaikan menjelang kemungkinan pertemuan langsung antara Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping, sejumlah persoalan mendasar seperti transfer teknologi, sanksi, dan pasar ekspor masih menjadi tantangan utama.

Pihak-pihak terkait di kedua negara dipandang perlu memperkuat komunikasi dan komitmen agar tidak hanya menunda konflik, tetapi juga mencari solusi jangka panjang yang menguntungkan semua pihak.

Penangguhan kenaikan tarif ini menandai babak baru dalam dinamika hubungan perdagangan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. Hal ini dinilai krusial bagi stabilitas perdagangan internasional di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi.

Exit mobile version