61.827 Warga Gaza Tewas akibat Agresi Israel, Mayoritas Perempuan & Anak-anak

Sejak dimulainya agresi militer oleh Israel pada 7 Oktober 2023, jumlah korban jiwa di Jalur Gaza terus meningkat drastis. Hingga Jumat, 15 Agustus 2025, tercatat sebanyak 61.827 warga Gaza meninggal dunia akibat serangkaian serangan militer yang disebut sebagai perang genosida oleh banyak pihak. Data ini berasal dari berbagai sumber medis di Gaza yang memantau dampak serangan tersebut secara langsung.

Mayoritas korban tewas adalah perempuan dan anak-anak, kelompok yang seharusnya mendapatkan perlindungan khusus di dalam konflik bersenjata. Selain korban meninggal, jumlah warga yang terluka pun terus naik dan mencapai 155.275 jiwa. Dari angka tersebut, luka-luka yang dialami beragam mulai dari luka ringan hingga yang sangat serius dan memerlukan perawatan intensif di rumah sakit setempat.

Agresi yang Meningkat Pasca Gencatan Senjata

Serangan militer terhadap Jalur Gaza sempat mereda saat ada perjanjian gencatan senjata. Namun, sejak 18 Maret 2025, Israel secara sepihak mengakhiri perjanjian tersebut dan melanjutkan operasi militer. Sejak saat itu, tercatat 10.300 orang tewas dan 43.234 mengalami luka-luka. Angka ini menunjukkan eskalasi kekerasan yang signifikan dan berimbas pada kondisi kemanusiaan yang memburuk.

Dalam 24 jam terakhir menjelang laporan ini, sebanyak 54 warga Palestina ditemukan tewas, termasuk empat korban yang baru diketemukan di reruntuhan bangunan akibat serangan udara. Sementara itu, 831 pasien terluka sedang menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Gaza, yang kapasitasnya terus tertekan oleh meningkatnya jumlah korban.

Dampak Kelaparan dan Pengungsian Massal

Selain dampak langsung dari serangan militer, krisis kemanusiaan kian parah dengan adanya kelaparan yang menimpa warga Gaza. Dalam sehari terakhir, seorang anak perempuan dilaporkan meninggal karena kelaparan. Total jiwa yang meninggal dunia akibat kelaparan kini mencapai 240 orang, termasuk 107 anak-anak. Situasi ini mempertegas kerentanan kelompok anak-anak yang menjadi korban ganda akibat konflik dan krisis pangan.

Tak hanya korban jiwa, hampir dua juta orang penduduk Gaza juga mengalami pengungsian paksa akibat serangan berkepanjangan. Sebagian besar pengungsi memilih mencari perlindungan di Kota Rafah, wilayah paling selatan Gaza yang berbatasan dengan Mesir. Eksodus ini menjadi yang terbesar semenjak peristiwa Nakba 1948, menandai skala krisis pengungian terbesar yang dialami Palestina dalam beberapa dekade terakhir.

Korban Hilang di Bawah Reruntuhan

Selain jumlah korban tewas dan luka, terdapat pula laporan yang menyebutkan sekitar 10.000 orang dinyatakan hilang dan diduga tertimbun di bawah reruntuhan rumah dan bangunan akibat serangan militer. Data ini semakin menambah kompleksitas pencarian korban dan memberikan beban besar bagi tim penyelamat dan layanan darurat.

Kondisi Medis dan Bantuan Darurat

Rumah sakit di Gaza beroperasi dalam kondisi yang sangat kritis, menghadapi keterbatasan alat medis, obat-obatan, dan tenaga kesehatan akibat blokade serta serangan yang terus berlanjut. Korban luka yang harus dirawat kini mencapai puluhan ribu, sementara fasilitas kesehatan terus berjuang memberikan pelayanan dan penanganan terbaik di tengah situasi yang semakin memburuk.

Data ini memperlihatkan bahwa konflik di Gaza bukan hanya mengambil korban dari sisi militer, tetapi telah menghancurkan kehidupan warga sipil secara luas. Dengan meningkatnya korban perempuan dan anak-anak, jelas bahwa masyarakat sipil menjadi pihak paling menderita akibat agresi militer Israel.

Situasi terkini menuntut perhatian dunia internasional untuk memberikan bantuan kemanusiaan yang lebih signifikan dan memastikan perlindungan warga sipil. Tanpa upaya tersebut, krisis kemanusiaan di Gaza diperkirakan akan terus memburuk, dengan dampak yang mempengaruhi jutaan jiwa yang terdampak.

Exit mobile version