Amerika Serikat (AS) baru-baru ini mengambil keputusan untuk menghentikan sementara penerbitan visa kunjungan bagi warga Gaza. Langkah ini diumumkan oleh Departemen Luar Negeri AS pada Sabtu, 16 Agustus 2024, sebagai bagian dari peninjauan menyeluruh terhadap proses visa yang selama ini diterbitkan, terutama visa medis dan kemanusiaan. Penghentian ini muncul setelah adanya kontroversi yang dipicu oleh unggahan media sosial mengenai kedatangan sejumlah warga Palestina dari Gaza yang mengaku sebagai pengungsi ke beberapa kota di AS, seperti San Francisco dan Houston.
Latar Belakang Penghentian Visa
Keputusan penghentian visa dilakukan sehari setelah Laura Loomer, aktivis sayap kanan yang dekat dengan mantan Presiden Donald Trump, memposting di platform X (sebelumnya Twitter) tentang warga Palestina yang berhasil memasuki AS dengan status pengungsi dari Gaza. Loomer menyoroti hal ini dengan mempertanyakan kebijakan imigrasi di bawah slogan "America First" dan mengklaim bahwa kedatangan imigran ini menimbulkan kemarahan di kalangan beberapa anggota Kongres dan senator AS.
Kritik terhadap kedatangan ini disuarakan oleh para politisi Republik seperti Chip Roy dari Texas dan Randy Fine dari Florida. Mereka menganggap kedatangan warga Gaza ini sebagai potensi risiko keamanan nasional yang serius.
Respons dan Penolakan dari Kelompok Bantuan
Meski mendapat dukungan dari kalangan sayap kanan, keputusan AS ini langsung menuai kecaman dari berbagai organisasi kemanusiaan. Dana Bantuan Anak-Anak Palestina (Palestine Children’s Relief Fund atau PCRF) menyatakan keputusan ini akan sangat merugikan anak-anak Gaza yang sangat membutuhkan perawatan medis di luar wilayah mereka.
Direktur Urusan Pasien Global PCRF, Tareq Hailat, menggambarkan penghentian visa sebagai berita yang menghancurkan. Ia memperingatkan bahwa pembatasan ini merampas akses anak-anak Gaza terhadap hak asasi manusia paling dasar, yaitu memperoleh perawatan medis yang menyelamatkan jiwa.
Organisasi HEAL Palestine yang mengatur evakuasi pasien juga menyebutkan telah membantu 148 orang termasuk 63 anak yang memerlukan perawatan darurat sebelum kebijakan ini diterapkan. Selain itu, Dewan Hubungan Amerika-Islam (Council on American-Islamic Relations atau CAIR) mengutuk keras keputusan ini dan menilai langkah tersebut sebagai bagian dari sikap "Israel First" dari pemerintahan mantan Presiden Trump yang semakin melekat dalam kebijakan luar negeri AS terhadap konflik Palestina-Israel.
Dampak Kebijakan dan Tanggapan Akademisi
Associate Professor Tamer Qarmout dari Doha Institute for Graduate Studies menilai kebijakan AS sejauh ini menandakan bahwa negara tersebut telah “kehilangan jiwa” dalam konflik Gaza akibat dukungannya yang kuat kepada Israel. Ia menyarankan agar AS menangguhkan pengiriman senjata ke Israel sebagai langkah untuk mengakhiri derita dan genosida yang dialami warga Gaza.
Laura Loomer sendiri menyambut baik pengumuman Departemen Luar Negeri AS mengenai penghentian visa dengan menyatakan bahwa keputusan cepat ini adalah hasil dari pemerintahan Trump yang menurutnya berhasil menghasilkan perubahan dalam kebijakan imigrasi terkait warga Gaza.
Kondisi Kemanusiaan di Gaza dan Reaksi Global
Penghentian visa menjadi sorotan di tengah meningkatnya krisis kemanusiaan di Gaza. Rumah Sakit al-Ahli, rumah sakit Kristen yang satu-satunya di Gaza yang dikelola oleh Gereja Episkopal Jerusalem, mengalami serangan pasukan Israel yang menyebabkan korban sipil. Data Kementerian Kesehatan Palestina mencatat semakin banyak kematian akibat kelaparan dan kekurangan layanan medis, dengan total korban tewas mencapai lebih dari 251 orang dalam waktu 24 jam terakhir, termasuk 108 anak-anak.
Sementara itu, di New York City, ribuan demonstran menggelar unjuk rasa pro-Palestina terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Massa menuntut penghentian pengepungan Gaza dan mengakhiri kelaparan serta kekejaman yang dialami warga Palestina. Unjuk rasa ini didukung oleh berbagai kelompok aktivis termasuk Democratic Socialists of America, CodePink, Council on American-Islamic Relations, serta komunitas Arab dan Yahudi anti-Zionis.
Poin Penting Kebijakan Visa AS terkait Gaza
- Penghentian sementara visa khususnya bagi warga Gaza yang mengajukan visa medis dan kemanusiaan.
- Langkah ini dipicu oleh kekhawatiran keamanan nasional terkait klaim pengungsi Palestina yang masuk ke AS.
- Peninjauan ulang ditujukan untuk mengevaluasi prosedur penerbitan visa saat ini.
- Kebijakan ini mendapat kecaman dari berbagai organisasi kemanusiaan sebagai bentuk pengingkaran terhadap hak asasi anak-anak Gaza.
- Kebijakan terjadi di tengah krisis kemanusiaan yang terus memburuk di Gaza akibat konflik bersenjata dan blokade.
Penghentian visa ini mengindikasikan ketegangan antara kebijakan keamanan nasional AS yang dipengaruhi oleh tekanan politik dalam negeri dan kebutuhan kemanusiaan internasional yang mendesak. Sementara AS mempertimbangkan ulang prosedur visa, komunitas internasional terus menyuarakan perlunya akses medis dan bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza paling rentan.
