Presiden China Xi Jinping beserta istri, Madam Peng Liyuan, menyambut kedatangan Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, pada acara jamuan makan malam sebelum pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Shanghai Cooperation Organisation (SCO) di Tianjin, Minggu (31/8). Kehadiran Menlu Sugiono ini menjadi sorotan karena menggantikan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya direncanakan menghadiri forum tersebut.
Jamuan makan malam yang berlangsung di Tianjin Meijiang International Convention and Exhibition Center dimulai dengan sesi foto bersama para kepala negara maupun perwakilan pemerintahan yang hadir. Dalam sesi ini, Menlu Sugiono berjabat tangan dan berfoto bersama setelah Presiden Laos Thongloun Sisoulith, menunjukkan posisi diplomatik Indonesia yang ikut ambil bagian dalam forum internasional tersebut.
Menurut pengumuman resmi dari Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada Sabtu malam (30/8), Presiden Prabowo menunda kunjungannya ke China. Keputusan ini diambil agar Presiden Prabowo dapat tetap memantau perkembangan situasi di dalam negeri secara langsung. “Keputusan ini diambil dengan penuh kehati-hatian dan tetap menjaga hubungan baik dengan pemerintah China,” ungkap Prasetyo.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri China telah mengumumkan pada 22 Agustus bahwa Presiden Prabowo akan menghadiri KTT SCO bersama 22 pemimpin negara lain, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri India Narendra Modi, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Selain konferensi, Presiden Prabowo juga dijadwalkan hadir dalam parade militer memperingati 80 tahun kemenangan Perang Rakyat China Melawan Agresi Jepang dan Perang Dunia Anti-Fasis pada 3 September 2025, walau rencana tampil di parade tersebut kemungkinan besar batal.
China saat ini memegang posisi presiden bergilir SCO untuk periode 2024-2025. SCO sendiri merupakan organisasi kerja sama regional yang bermula dengan enam anggota pendiri: China, Rusia, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, dan Uzbekistan. Anggota SCO kemudian bertambah dengan hadirnya India dan Pakistan pada 2017, Iran (2023), dan Belarus (2024), sehingga kini berjumlah 10 negara anggota penuh.
Selain anggota penuh, SCO memiliki dua negara pemantau yaitu Mongolia dan Afghanistan, serta 14 mitra dialog, termasuk Sri Lanka, Turki, Malaysia, dan Arab Saudi. Pada KTT SCO di Tianjin tahun ini, China juga mengundang negara-negara yang bukan anggota tetap, pemantau maupun mitra dialog, termasuk Indonesia, Laos, Malaysia, dan Vietnam.
Dalam KTT SCO 2025, Presiden Xi Jinping akan memimpin pertemuan “SCO Plus” yang mengumpulkan seluruh kepala negara dan pemerintahan dari anggota serta negara non-anggota yang diundang. Tema KTT tahun ini adalah “Tahun Pembangunan Berkelanjutan SCO,” dengan fokus mendorong berbagai inisiatif pembangunan global yang telah diusulkan oleh Presiden Xi. Inisiatif tersebut mencakup pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, kesehatan publik, pembiayaan pembangunan, perubahan iklim dan pembangunan hijau, industrialisasi, ekonomi digital, dan konektivitas antarnegara.
Keikutsertaan Indonesia dalam forum penting ini, meskipun diwakili oleh Menteri Luar Negeri Sugiono, menegaskan komitmen Jakarta untuk tetap aktif dalam kerja sama multilateral di kawasan Asia. Dalam konteks geopolitik dan ekonomi global yang dinamis, partisipasi Indonesia dalam SCO di bawah kepemimpinan China sebagai presiden bergilir ditujukan untuk mendukung stabilitas regional dan memperkuat hubungan bilateral dengan berbagai mitra strategis.
Penggantian Presiden Prabowo oleh Menlu Sugiono menunjukkan fleksibilitas diplomasi Indonesia dalam menghadapi dinamika domestik, sekaligus menjaga citra dan peran aktif Indonesia di forum internasional yang berpengaruh seperti SCO. Dengan demikian, Indonesia tetap berada pada posisi strategis sebagai negara dengan pengaruh signifikan di kawasan Asia Tengah dan Asia Timur.
KTT SCO yang akan berlangsung hingga 1 September 2025 ini diharapkan dapat mendorong sinergi lebih lanjut antaranggota dalam menghadapi tantangan global serta menguatkan proposisi pembangunan berkelanjutan yang menjadi tema sentral tahun ini. Kehadiran para pemimpin dunia di Tianjin mempertegas pentingnya forum ini sebagai platform diplomasi dan pembangunan ekonomi regional yang terus berkembang.
